Di Tengah Gangguan Produksi dan Gejolak Global, SKK Migas Ajak Industri Bangkit

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com— Industri hulu minyak dan gas Indonesia tengah menghadapi ujian yang tidak ringan. Gangguan operasional di sejumlah wilayah kerja, ditambah ketegangan geopolitik global yang memicu ketidakpastian energi, menekan upaya pemerintah meningkatkan produksi migas nasional.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menyebut kondisi tersebut sebagai fase penuh tekanan yang menguji ketangguhan para pelaku industri.

“Kalau kita melihat kondisi industri hulu migas hari-hari ini, kita sedang berada dalam fase yang tidak mudah,” kata Djoko dalam acara buka puasa bersama Guspenmigas di Jakarta, Sabtu (07/03/2026), seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.

Djoko mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir industri migas nasional harus menghadapi serangkaian insiden teknis yang berdampak pada produksi minyak.

Gangguan tersebut antara lain kebocoran pipa di wilayah kerja Cepu dan Bawean, pecahnya pipa gas milik TGI, hingga terganggunya pasokan listrik dari pembangkit NDC milik MCTN yang memasok energi untuk operasi di Rokan.

Rangkaian kejadian itu menyebabkan produksi minyak mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Situasi ini terjadi justru ketika pemerintah sedang mendorong peningkatan lifting minyak dan gas untuk menjaga ketahanan energi nasional.

“Ini bukan sekadar angka produksi atau target lifting. Ini menyangkut energi nasional, ekonomi, bahkan bisa berdampak pada rumah tangga,” ujar Djoko.

Tekanan terhadap industri energi domestik juga datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menurut Djoko, mulai berdampak pada kenaikan harga minyak dunia dan potensi gangguan pasokan energi global.

Kondisi ini membuat sektor energi berada dalam situasi yang semakin kompleks: di satu sisi harus menjaga produksi dalam negeri, di sisi lain menghadapi volatilitas pasar energi global.

Bagi Djoko, situasi penuh tekanan ini justru menjadi ujian nyata bagi para pelaku industri migas nasional.

Menurutnya, dalam kondisi normal semua sistem bisa terlihat berjalan baik. Namun ketika gangguan terjadi dan target produksi terancam, karakter dan integritas organisasi akan benar-benar terlihat.

“Ketika ada tekanan, gangguan operasional, penurunan produksi, di situlah karakter muncul. Apakah kita akan lari dari tekanan dan masalah, atau bangkit bersama mencari solusi?” tegasnya.

Di tengah tantangan tersebut, Djoko meminta seluruh pemangku kepentingan industri migas untuk menjaga semangat kerja dan memperkuat kolaborasi.

Ia menegaskan bahwa setiap tantangan harus dijawab dengan inovasi, perbaikan sistem, serta kerja sama yang lebih solid di antara pemerintah, operator, dan pelaku industri pendukung.

“Gangguan operasional adalah kesulitan. Penurunan produksi adalah kesulitan. Tekanan target adalah kesulitan. Tapi bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan,” kata Djoko.

Dengan berbagai tekanan yang terjadi, industri hulu migas Indonesia kini berada di titik krusial. Kemampuan sektor ini untuk mengatasi gangguan operasional sekaligus menjaga produksi akan menjadi penentu bagi upaya menjaga ketahanan energi nasional di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.