Dirut PHR Ruby Mulyawan Paparkan Tantangan dan Strategi di Hadapan Komisi VII DPR

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Direktur Utama PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Ruby Mulyawan memaparkan capaian produksi, tantangan operasional, serta rencana kerja 2026 dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (12/11/2025).

Ruby menegaskan bahwa PHR terus berupaya menjaga level produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan yang saat ini berada pada kisaran 154–155 ribu barel per hari (BOPD).

“Produksi year-to-date berada di angka 151.039 BOPD. Dengan sisa waktu dua bulan, outlook kami 151,4 ribu. Per hari ini produksi Rokan berada di level 154–155 ribu BOPD dan mudah-mudahan bisa kami pertahankan sampai Desember,” kata Ruby membuka paparannya.

Gangguan Listrik dan Kekurangan Gas Tekan Produksi

Ruby menjelaskan, sepanjang 2025 terdapat sejumlah gangguan signifikan yang memengaruhi produksi, terutama terkait reliabilitas pasokan listrik. Tercatat empat kali major shutdown dari pemasok listrik seperti PLN MCTN, yang menyebabkan penurunan produksi.

“Setiap terjadi shutdown, produksi turun, lalu kami bangkitkan kembali, kemudian turun lagi. Ini yang akan kami mitigasi di tahun depan melalui peningkatan koordinasi dengan PLN dan peningkatan keandalan unit cogeneration,” jelas Ruby.

Selain listrik, suplai gas juga menjadi tantangan besar. Rokan membutuhkan 210–220 BBTUD untuk pembangkit listrik dan steam flooding. Namun sejak November 2024, terjadi shortage 20–25 BBTUD yang menyebabkan loss production opportunity (LPO) sekitar 2.500 BOPD.

“Kalau suplai gas cukup, produksi bisa naik sekitar 2.500 BOPD. Inilah yang menjadi pekerjaan besar kami,” tegasnya.

Koordinasi dengan Pemasok Gas, Target Produksi 2026 dan Program Utama

Ruby menyebut bahwa PHR aktif berkoordinasi dengan para pemasok gas, seperti Koridor, PEP, Jambimerang, dan Jabung, yang saat ini sama-sama menghadapi natural decline produksi. Kondisi tersebut diperparah oleh tingginya kebutuhan gas industri di wilayah sekitar.

“Untuk tahun depan, kami juga menyiapkan langkah mitigasi dampak shutdown PHE Jambi Merang, yang merupakan salah satu pemasok gas terbesar ke Rokan,” ujar Ruby.

Bersama SKK Migas, PHR menyepakati target produksi tahun 2026 di angka 154 ribu BOPD, disesuaikan dengan kondisi pasokan gas dan listrik serta rencana shutdown pemasok gas.

Ruby memaparkan bahwa target itu ditopang oleh sejumlah program utama, yakni: Waterflood optimization. Infill drilling di Sumatera Light Oil dan Heavy Oil. Pengembangan steam flood, termasuk perluasan ND 14 serta area lain seperti Rantau Bais. Pengembangan sumur-sumur di reservoir kualitas rendah dan low permeability. Penerapan disiplin eksekusi dan kapital secara lebih ketat.

“Ini komitmen kami. Semua program kami pastikan dieksekusi dengan baik, disiplin secara kapital, dan menjaga reliabilitas operasi agar target produksi bisa dicapai,” tutup Ruby.