Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar menggembirakan datang dari Lapangan Camar, Wilayah Kerja (WK) Bawean, di Selat Madura. Sumur yang telah berstatus idle selama lebih dari satu dekade kini kembali diaktifkan dan menunjukkan potensi produksi minyak yang menjanjikan.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto melaporkan, KKKS Prima Energy WK Bawean berhasil mengaktivasi kembali Sumur CS-1 melalui kegiatan workover.
Sumur tersebut diketahui telah berstatus idle sejak 2013. Namun, setelah dilakukan evaluasi data bawah permukaan dan akuisisi cased-hole log, tim menemukan indikasi adanya interval yang berpotensi mengandung minyak.
“Alhamdulillah, KKKS Prima Energy WK Bawean telah mengaktivasi sumur idle dan memperoleh hasil awal yang menggembirakan dari kegiatan workover Sumur CS-1 di Lapangan Camar,” ujar Djoko dalam laporan pada Kamis (3/9/2026).
Temuan Baru di Reservoir Masalembo
Yang menarik, potensi tersebut berada pada Reservoir Masalembo di kedalaman sekitar 6.600 feet measured depth (ftMD).
Interval minyak ini sebelumnya belum diperhitungkan dalam cadangan maupun produksi eksisting Lapangan Camar. Artinya, keberhasilan workover CS-1 membuka peluang adanya tambahan sumber daya hidrokarbon yang selama ini belum masuk dalam perhitungan pengembangan lapangan.
Lebih menggembirakan lagi, pada pengujian awal minyak mampu mengalir secara alami atau natural flow, tanpa bantuan artificial lift.
Laju awalnya bahkan mencapai sekitar 400 barel minyak per hari (BOPD).
Namun, SKK Migas mengingatkan bahwa angka tersebut masih merupakan hasil awal. Sumur CS-1 saat ini masih menjalani proses clean-up, stabilisasi dan pemantauan.
Karena itu, laju produksi yang dapat dipertahankan secara berkelanjutan maupun tingkat produksi optimal sumur masih harus dikonfirmasi melalui evaluasi lebih lanjut.
Temuan ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan Lapangan Camar. Setelah sempat menganggur selama 13 tahun, Sumur CS-1 justru menunjukkan bahwa masih terdapat peluang hidrokarbon yang bisa digali.
Prima Energy bersama SKK Migas selanjutnya tidak hanya akan memantau kinerja Sumur CS-1, tetapi juga mengevaluasi kemungkinan pengembangan potensi serupa di area sekitar.
Jika hasil evaluasi lanjutan kembali menunjukkan keekonomian yang menarik, temuan tersebut berpotensi menjadi tambahan amunisi bagi upaya meningkatkan produksi minyak nasional.
Bagi industri hulu migas, keberhasilan menghidupkan kembali sumur idle seperti CS-1 menjadi salah satu strategi penting untuk mengejar tambahan produksi tanpa harus selalu mengandalkan penemuan lapangan baru.
Apalagi, setiap tambahan barel minyak menjadi semakin berarti di tengah upaya pemerintah memperkuat produksi dan menjaga pencapaian target lifting nasional.
Djoko pun menyampaikan apresiasinya kepada tim Prima Energy dan SKK Migas yang terus mendorong optimalisasi aset hulu migas.
“Mohon doa agar hasilnya terus berkembang positif,” tulis Djoko dalam laporan tersebut.
Dari Sumur CS-1, sebuah pesan kembali muncul: sumur lama belum tentu kehilangan harapan. Dengan teknologi, evaluasi bawah permukaan dan strategi workover yang tepat, aset yang selama bertahun-tahun terdiam masih bisa memberikan kejutan baru bagi produksi minyak nasional.

