Kemenko Marves

Dorong Pengembangan Teknologi STAL untuk Pengolahan dan Pemurnian Nikel

Bogor, Ruangenergi.com Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) menyambut baik pengembangan teknologi Step Temperature Acid Leaching (STAL) yang dilakukan oleh PT. Trinitan Metal and Minerals Tbk (PT Trinitan).

Dalam acara Finalisasi Pengujian teknologi STAL tersebut belum lama ini dihadiri oleh wakil dari Badan Geologi Kementerian ESDM dan Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, Prof. Zaki Mubarok.

Asisten Deputi (Asdep) Investasi Strategis, Kemenko Marves, Bimo Wijayanto beserta Asisten Deputi Pertambangan, Tubagus Nugraha.

Menurut Bimo, pengembangan teknologi STAL yang menggunakan metode hidrometalurgi ini, dipandang sebagai sebuah terobosan untuk aplikasi teknologi pengolahan nikel dalam skala lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis teknologi yang digunakan pada industri pengolahan logam dasar.

Ia mengatakan, teknologi tersebut dapat berbentuk modular, dan dipandang cocok untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan wilayah pertambangan nikel (mine mouth).

“Dengan teknologi modular ini, dinilai besaran yang dibutuhkan akan bisa diangkau oleh industri pertambangan yang lebih kecil yang banyak beroperasi di Indonesia. PT Trinitan sendiri merencanakan akan membangun serta mengkomersialkan teknologi STAL ini di KEK Palu, dengan target COD pada 2023,” beber Bimo.

Ia menjelaskan, desain teknologi STAL yang dikembangkan ini akan membutuhkan bijih nikel sebesar 170 ribu ton nikel ore per tahunnya atau 600 ton per hari untuk setiap modular STAL dengan kadar bisa sampai 1.1%, dihitung akan dapat menghasilkan 1800 ton pure nikel per tahun.

“Teknik STAL ini akan dioperasikan pada tekanan atmosphere ruang yang lebih sekitar 1 atm, dengan temperature antara 300 – 700 derajat celcius. Di tahapan ini terjadi proses sulfatisasi dari logam-logam yang terdapat di nickel ore. Residu dari proses ini diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan teknologi HPAL karena residu yang dihasilkan berupa oksida besi (Fe2O3) dan sedikit oksida alumunium (Al2O3) serta sedikit sedikit asam sulfat dalam bentuk metal sulfat. Residu ini dapat diolah kembali menjadi iron ore dan iron brick (bata besi),” imbuhnya.

Ia pun melanjutkan, penelitian yang dilakukan oleh PT Trinitan ini telah sejak tahun 2019 ini dalam prosesnya meminta verifikasi dan validasi kepada Badan Geologi Kementerian ESDM dan juga dari Teknik Metalurgi ITB.

BACA JUGA  Pengelolaan Kawasan Hutan untuk Energi Biomassa

Menurutnya, hasil vailidasi yang dipaparkan pada acara tersebut, dengan penilaiain recovery factor mencapai diatas 90%, teknologi ini dinilai sudah layak untuk dikembangkan secara komersial. Pada kesempatan itu juga, Teknik Metalurgi ITB tertarik untuk melanjutkan peneltian dalam pengembangan MHP yang dihasilkan melalui proses STAL untuk dapat dijadikan NCM Precursor melalui proses secara langsung (direct process).

Bimo menambahkan, pemanfaatan teknologi ini didasari oleh konsep environmental social and governance pada setiap rencana teknologinya. Hal ini dapat membantu pemerintah menjawab informasi seputar pengolahan sumber daya mineral yang berbasis ramah lingkungan.

“Artinya rekomendasi-rekomendasi tentang pemanfaatan ekonomi green, green investment ataupun financing, itu sudah bisa terjawab dengan cara-cara STAL yang efisien dengan dampak lingkungan yang minimal dan juga transparansi dari sisi governance,” paparnya.

Tiga Cara Pengolahan Limbah HPAL

Sementara, Asisten Deputi Pertambangan, Kemenko Marves, Tubagus Nugraha, mengatakan,bahwa kendala terbesar dalam memproses bijih limonit atau nikel berkadar rendah melalui HPAL (High Pressure Acid Leach) adalah pengelolaan limbahnya.

Ia menambahkan, pada umumnya, terdapat tiga acara pengelolaan limbah HPAL, yakni : Pertama, membuang limbah di bawah area laut dalam. Kedua, membendung limbah dalam bentuk cairan di salah satu bendungan; dan Ketiga, menumpuk limbah yang sudah dikeringkan.

Melalui pemanfaatan teknologi ini, Tubagus berharap agar teknologi ini dapat berkembang secara komersial. Namun teknologi ini perlu memenuhi kelayakan secara teknisnya, dan diakui oleh pihak-pihak yang melakukan verifikasi dan validasi terhadap teknologi tersebut.

“Kami mendukung pengembangan teknologi STAL ini, dengan hasil validasi ini, kami akan menunggu perhitungan komersialnya. Tentunya kami akan diskusikan lanjut. Apabila dipandang sudah sangat layak komersial tentunya Pemerintah dipandang bisa memberikan dukungan lebih lanjut,” tuturnya.

Asdep Investasi Strategis, Bimo Wijayanto, kembali menuturkan, ekspor produk hilir mengalami kenaikan melampaui kenaikan ekspor bijih terutama pada produk nikel. Hal ini dinilai bisa menjadi dasar konteks yang dapat memperkuat argumentasi dari pengujian teknologi STAL.

“Mulai dari timah, tembaga, alumina, kemudian nikel ini kita bisa lihat sisi ekspor dari sisi volume-nya maupun value-nya mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Cumulative average growth rate-nya cukup siginifikan dari sisi investasi,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *