Energi untuk Pendidikan: PHM Perkuat Ekosistem Belajar di Wilayah 3T Anggana Lewat Forum Keberlanjutan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Samarinda, Kaltim, ruangenergi.com-Di tengah hiruk-pikuk Kota Samarinda, sebuah pertemuan penting berlangsung pada pertengahan November 2025. Bukan sekadar rapat korporasi biasa, melainkan sebuah reuni gagasan dan harapan bagi wajah pendidikan di pesisir Kalimantan Timur.

Selama tiga hari, dari 13 hingga 15 November, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) menggelar Forum Keberlanjutan Guru Penggerak. Forum ini menjadi titik kulminasi dari perjalanan panjang selama lima tahun—sebuah dedikasi tanpa henti sejak 2021—untuk menghadirkan kesetaraan pendidikan bagi anak-anak di wilayah sukar jangkau melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) unggulan: Program Sekolah Negeri Terapung.

Kecamatan Anggana, khususnya Desa Tani Baru dan Desa Sepatin, bukanlah wilayah yang mudah ditaklukkan. Berada di kawasan pesisir dan delta, akses pendidikan kerap kali terhambat oleh kondisi geografis. Namun, keterbatasan itu perlahan terkikis berkat kolaborasi erat antara PHM dan lembaga nirlaba Indonesia Mengajar (IM).

Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, mengungkapkan bahwa program ini bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan membangun jiwa.

“Selama dua tahun terakhir, dampaknya luar biasa signifikan. Kita melihat lahirnya SMPN 6 Anggana sebagai Sekolah Rujukan Google—sebuah pencapaian teknologi di wilayah pesisir—hingga penghargaan Adiwiyata tingkat provinsi yang diraih SMPN 4 dan SMPN 6 Anggana,” ujar Achmad.

Angka-angka yang dipaparkan dalam forum tersebut bercerita lebih banyak daripada sekadar statistik. Sebanyak 165 sarjana pesisir telah mendapatkan pendampingan, dan 39 guru SMP serta SMA telah ditempa melalui 17 pelatihan intensif. Hasilnya? Ratusan prestasi siswa dan guru kini menghiasi lemari piala, dari tingkat lokal hingga kancah internasional.

Forum yang dihadiri oleh Camat Anggana Rendra Abadi, perwakilan UPT LK Anggana, hingga pemerintah desa dari Muara Pantuan, Sepatin, dan Tani Baru ini, menjadi ruang refleksi.

“Forum ini adalah ruang bagi kita untuk memetakan kebutuhan dan menyusun rencana kerja. Ini tentang memperkuat komitmen berkelanjutan,” tambah Achmad.

Salah satu kunci keberlanjutan tersebut adalah pembentukan Komunitas Kukar Pintar Idaman (KBKPI). Melalui komunitas ini, para Guru Penggerak tidak berjalan sendiri. Mereka melakukan pendampingan ke 11 sekolah di Kecamatan Anggana, menciptakan ekosistem belajar yang positif yang sejalan dengan prioritas pemerintah dalam membangun daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Camat Anggana, Rendra Abadi, tak menutupi rasa bangganya. “Bantuan PHM di bidang pendidikan ini berdampak luas. Buktinya nyata, prestasi sekolah dan siswa kami kini bersaing di berbagai ajang perlombaan,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar tanggung jawab perusahaan, inisiatif ini adalah wujud nyata dari upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Manager Communication Relations & CID PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menegaskan bahwa operasi hulu migas harus berjalan beriringan dengan kemandirian masyarakat.

Program pendidikan ini telah membuka pintu yang sebelumnya tertutup: dari pelatihan vokasi bagi pemuda putus sekolah, pemberian beasiswa, hingga perbaikan infrastruktur vital.

“Kami ingin memastikan bahwa kehadiran kami mendukung penguatan institusi lokal dan kapasitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasi,” tegasnya.

Kini, Sekolah Negeri Terapung dan para Guru Penggerak bukan lagi sekadar nama program. Mereka adalah bukti nyata bahwa dengan kolaborasi yang tulus, pelita pendidikan dapat bersinar terang, bahkan di ujung delta sekalipun.