EWI: Pertamina Harus Revieuw Ulang Presentasi losses

Jakarta, Ruangenergi.com – Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia, Ferdinand Hutahaean mengatakan, bahwa aturan ambang batas losses 3 persen memungkinkan tindak pencurian yang dilakukan dengan sengaja bisa diabaikan. Pasalnya, aturan itu sendiri tidak mempermasalahkan adanya kerugian kehilangan minyak, jika nilainya di bawah ambang batas diizinkan yaitu 3 persen.

“Ini yang bagi saya sangat konsen, karena apakah efisiensi 3 persen ini sudah diteliti secara betul oleh Pertamina sebelum menetapkannya. Karena seperti yang saya sampaikan tadi, aturan ini dibuat untuk tempat berlindung para maling,” katanya dalam diskusi virtual tentang Losses yang diselenggarakan APEI, Jumat (19/3/2021) malam.

Untuk itu Ferdinand meminta kepada manajemen Pertamina untuk melakukan kajian ulang soal nilai losses yang diperbolehkan sebesar 3 persen dari pengelolaan dan distribusi BBM.

“Dengan ambang batas losses yang terlalu besar itu, dikhawatirkan justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk berbuat curang,” ucapnya.

Ia menduga, bisa saja pencurian tersebut dilakukan dengan terstruktur dan terencana, dengan memanfaatkan kelemahan sistem dan aturan di Pertamina sendiri, yang memperbolehkan nilai losses dari BBM bisa diabaikan jika di bawah 3 persen.

“Aturan seperti ini justru menjadi tempat berlindung bagi malinh-maling yang ada di sana. Saya tidak ingin menuduh siapa-siapa, tapi jangan sampai celah ini (Losses 3 persen) dijadikan tempat berlindung, tempat bersembunyi dari pelaku yang memang dengan sengaja mau mengambil minyak dari Pertamina yang jika kita berbicara minyak ini pasti licin, duitnya banyak,” ujar Ferdinand

Ia menduga, kejadian pencurian solar di SPM Tuban itu bukan pencurian biasa dan melibatkan aktor intelektual di balik hal tersebut. Sebab, dari barang bukti yang ditemukan salah satunya berupa sebuah kapal tangker yang digunakan untuk menyimpan minyak curian, bukanlah sesuatu hal yang dilihat sepele.

“Inilah yang menjadi konsen kita, jangan-jangan ini telah menjadi kebiasaan dan terjadi tidak hanya disini, tapi terjadi di banyak titik dan telah menjadi biasa. Karena kalau kita lihat pencurian ini, investasinya luar biasa besar, karena investasinya adalah sebuah kapal yang harganya puluhan miliar. Jadi kalau investasi untuk mencuri saja harganya sudah sangat mahal, artinya yang dicuri tidak mungkin sedikit,” paparnya.

Ferdinand berharap, Kepolisian mengusut tuntas kejadian ini dan tidak hanya berhenti pada pelaku oen irian saja, melainkan juga harus mengungkap siapa aktor intelektual dibalik pencurian ini.

“Karena siapa coba yang mau berinvestasi tinggi dengan resiko seperti ini, kapalnya ditangkap untuk melakukan hal seperti ini, itu tidak masuk akal,” pungkasnya.(SF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *