First Gas In LPG Plant Cilamaya Tercapai, Gas ONWJ Kini Diolah Jadi 163 Ton LPG per Hari

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Cilamaya, Jawa Barat, ruangenergi.com– Upaya optimalisasi pemanfaatan sumber daya minyak dan gas bumi nasional kembali mencatat tonggak penting. Fasilitas LPG Plant Cilamaya resmi mencapai First Gas In pada 15 Maret 2026 dengan memanfaatkan pasokan gas dari wilayah Offshore North West Java (ONWJ).

Pencapaian ini menandai dimulainya pengolahan gas ONWJ menjadi produk bernilai tambah berupa Liquefied Petroleum Gas (LPG), sekaligus memperkuat langkah strategis dalam meningkatkan pemanfaatan gas domestik.

Keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri migas. Dukungan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, SKK Migas, serta PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java dinilai menjadi faktor penting dalam mendorong percepatan pemanfaatan gas dari wilayah kerja ONWJ.

Melalui fasilitas LPG Plant Cilamaya, gas yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini diolah menjadi sekitar 163 ton LPG per hari. Selain itu, fasilitas ini juga menghasilkan sekitar 300 barel kondensat per hari, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar terhadap pemanfaatan sumber daya gas nasional.

Pengembangan fasilitas ini turut didukung oleh PT Energi Nusantara Perkasa sebagai pengembang fasilitas pengolahan LPG yang berperan dalam mengoptimalkan pemanfaatan gas dari ONWJ agar memberikan kontribusi ekonomi yang lebih signifikan bagi sektor energi domestik.

Deputi Direktur Operasional, Pribadi Wardojo, mengatakan pencapaian First Gas In ini menjadi tonggak penting dalam upaya optimalisasi pemanfaatan gas dalam negeri.

“Keberhasilan First Gas In LPG Plant Cilamaya menunjukkan bahwa kolaborasi yang kuat antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri dapat mendorong percepatan pemanfaatan gas domestik yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal. Fasilitas ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah yang signifikan melalui pengolahan gas menjadi LPG serta mendukung peningkatan pasokan energi nasional,” ujar Pribadi.

Selain memperkuat pasokan LPG domestik, proyek ini juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan lifting migas nasional, penerimaan negara, serta optimalisasi pemanfaatan gas domestik. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Keberhasilan First Gas In LPG Plant Cilamaya sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi erat antara pemerintah, regulator, dan pelaku industri mampu mempercepat optimalisasi pemanfaatan sumber daya gas nasional serta menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi negara.

“Ke depan, sinergi ini diharapkan terus memperkuat pengelolaan sumber daya migas nasional guna mendukung ketahanan energi serta memberikan manfaat maksimal bagi negara dan masyarakat Indonesia,” tutup Pribadi. (*)