Gandeng Raksasa China dan Malaysia, Dart Energy Gaspol Bor 10 Sumur CBM di Tanjung Enim

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kabar gembira datang dari sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional. Setelah melalui perjalanan panjang selama tiga dekade, industri Gas Metana Batubara (Coal Bed Methane/CBM) di Indonesia akhirnya memasuki babak baru yang menjanjikan.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, melaporkan terjadinya kesepakatan bersejarah dalam pengembangan CBM di wilayah Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara konsorsium Dart Energy (NuEnergy) dengan perusahaan asal Malaysia, PT Globaltec, dan perusahaan asal Tiongkok, PT Beijing Energy Link.

Acara penandatanganan yang berlangsung di Hotel JW Marriott Jakarta, Kamis (8/1/2026), ini disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan SKK Migas dan perwakilan Kementerian ESDM.
Satu-Satunya yang Bertahan dari 55 Wilayah Kerja

Djoko Siswanto mengungkapkan fakta menarik di balik kesepakatan ini. Sejak studi CBM dimulai oleh Lemigas 30 tahun lalu, setidaknya ada 55 Wilayah Kerja (WK) CBM yang telah ditandatangani oleh berbagai kontraktor, baik asing, BUMN, maupun swasta nasional.
Namun, seleksi alam terjadi. Dari puluhan WK tersebut, hampir seluruhnya berguguran.

“Alhamdulillah, dari perjalanan panjang tersebut, ada satu WK yang menjadi pemenang hingga Plan of Development (POD) 1 diteken dan gasnya dapat dijual secara komersial ekonomis kepada PGN. KKKS tersebut adalah Dart Energy yang berkonsorsium dengan NuEnergy,” terang Djoko dalam laporannya, diceritakan kepada ruangenergi.com.

Kolaborasi strategis ini akan memanfaatkan skema Kerjasama Teknologi sesuai Permen ESDM No. 14 Tahun 2025. Masuknya mitra strategis dari Malaysia dan Tiongkok membawa optimisme baru dalam penerapan teknologi pengeboran yang lebih canggih.

Tak tanggung-tanggung, konsorsium ini menargetkan pengeboran 10 sumur horizontal dengan teknologi Multi Layer/Multi Stage Fracturing sepanjang tahun 2026.
“Adapun target awal produksinya pada tahun ini adalah sebesar 25 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD),” tambah Djoko.

Tonggak Sejarah Migas Non-Konvensional
Keberhasilan proyek Tanjung Enim ini dinilai bukan sekadar keberhasilan korporasi, melainkan sebuah simbol kebangkitan. Djoko Siswanto menyebut momentum ini sebagai bukti kembalinya semangat investasi di sektor CBM.

“Ini menjadi tonggak sejarah berkembangnya Era Migas Non-Konvensional (MNK), tepat di saat migas konvensional mulai memasuki masa sunset (matahari terbenam),” pungkasnya penuh optimisme.

Langkah ini diharapkan menjadi trigger bagi investor lain untuk kembali melirik potensi CBM di Indonesia yang selama ini sempat mati suri.