Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) melakukan manuver teknis darurat berupa fuel switching pada pembangkit listrik Blok Rokan setelah terjadi gangguan pasokan gas dari pipa transmisi milik pihak ketiga (TGI), awal Januari 2025 lalu.
Gangguan tersebut menyebabkan tekanan gas turun drastis dan berpotensi memicu pemadaman listrik total (blackout) di wilayah operasi PHR. Kondisi ini dinilai berisiko tinggi karena dapat menyebabkan ribuan sumur minyak mengalami pembekuan (congeal) yang berdampak pada terhentinya produksi dalam jangka panjang.
“Jika terjadi blackout, bukan hanya mesin yang mati, tetapi ribuan sumur bisa membeku dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dipulihkan. Itu yang kami cegah,” ujar salah satu Power Dispatcher senior PHR, seperti ditulis dalam rilis yang diterima ruangenergi.com.
Sebagai respons, PHR mengaktifkan Incident Management Team (IMT) dan menjalankan protokol darurat dengan mengalihkan bahan bakar unit Gas Turbine (GT) dari gas ke bahan bakar cair (solar) secara cepat, tanpa mematikan unit pembangkit.
Proses fuel switching dilakukan secara manual oleh tim lapangan di fasilitas pembangkit listrik Minas dengan pengawasan dari Operational Command Center (OCC) di Rumbai, Riau.
“Kami bekerja tanpa henti untuk menjaga turbin tetap beroperasi dan memastikan pasokan listrik tidak padam,” ujar salah satu operator.
Dengan keterbatasan energi akibat gangguan gas, PHR menerapkan strategi prioritas produksi berbasis data engineering melalui sistem load shedding. Area dan sumur dengan tingkat kritikal dan produktivitas tinggi diprioritaskan, sementara sebagian operasi lainnya dihentikan sementara.
Direktur Utama PHR, Muhamad Arifin, mengatakan ketangguhan tim menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan operasi.
“Manuver teknis dan strategi prioritas yang dilakukan tim berhasil meminimalkan dampak gangguan. Tanpa respons cepat, kerugian produksi bisa jauh lebih besar,” kata Arifin, Minggu (25/1).
Saat ini, seiring perbaikan jaringan pipa gas oleh pihak terkait, PHR mulai melakukan ramp-up produksi secara bertahap dan terukur untuk menjaga kestabilan sistem.
PHR merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang mengelola Wilayah Kerja Rokan sejak 9 Agustus 2021. Zona Rokan mencakup 80 lapangan aktif dengan sekitar 11.300 sumur dan menyumbang hampir seperempat produksi minyak nasional.

