Batam, Kepri, ruangenergi.com— Langkah besar menuju kemandirian energi nasional resmi dimulai. Pembangunan pipa gas bumi West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping ditandai dengan groundbreaking yang berlangsung di Batam, Rabu (11/2). Proyek strategis ini digadang-gadang menjadi tonggak sejarah baru pemanfaatan gas domestik, khususnya dari wilayah Natuna.
Groundbreaking dilakukan oleh Walikota Batam Amsakar Achmat bersama Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, jajaran Kementerian ESDM, PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), SKK Migas, serta perwakilan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dan pemangku kepentingan lainnya. Hadir pula unsur DPRD, aparat TNI-Polri, tokoh adat, dan masyarakat setempat.
Proyek ini merupakan tindak lanjut penugasan pemerintah dalam rangka memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus implementasi amanat konstitusi bahwa sumber daya alam harus diprioritaskan untuk kepentingan dalam negeri.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menegaskan pembangunan pipa ini menjadi bagian penting optimalisasi gas bumi domestik.
Dalam narasi yang sarat makna simbolis, Djoko menyebut gas Natuna yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri kini akan “pulang kampung” untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia merdeka.
Salah satu hal yang menonjol dari proyek ini adalah kecepatan persiapan. Dalam waktu kurang dari satu tahun, proses AMDAL, perizinan, tie-in agreement, hingga asuransi berhasil diselesaikan.
Saat ini progres proyek telah mencapai 27,62 persen dan ditargetkan rampung dalam empat bulan ke depan.
Setelah beroperasi, pipa WNTS–Pemping memiliki kapasitas alir sekitar 300 MMSCFD. Pasokan awal direncanakan berasal dari: Lapangan Duyung sekitar 111 MMSCFD.Domestic Market Obligation (DMO) Medco Natuna sekitar 40 MMSCFD.Potensi tambahan dari konsorsium Harbour, Petronas, Kuffec, Pertamina, PTT Thailand, serta Star Energy Natuna.Jika kontrak ekspor ke Singapura tidak diperpanjang, potensi gas domestik yang dapat dimanfaatkan akan semakin besar.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto menegaskan proyek ini akan meningkatkan keandalan pasokan energi untuk pembangkit listrik Batam sekaligus menekan biaya energi jangka panjang. Pemanfaatan gas bumi dinilai lebih efisien dibanding BBM dan LNG, sekaligus mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.
Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarahwati menambahkan proyek ini juga memberi efek berganda bagi ekonomi daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan aktivitas industri.
Walikota Batam Amsakar Achmat menilai proyek ini sejalan dengan arah pembangunan nasional, khususnya target pertumbuhan ekonomi Batam yang diproyeksikan mencapai 9,5–10 persen.
Proyek WNTS–Pemping diharapkan memperkuat ketahanan energi Kepulauan Riau, sekaligus menopang kebutuhan energi Sumatera hingga Jawa.
Pembangunan pipa ini juga menjadi contoh nyata sinergi sektor hulu migas dengan sektor ketenagalistrikan nasional dalam meningkatkan nilai tambah gas bumi dalam negeri.
Ke depan, proyek ini diharapkan menjadi model percepatan pembangunan infrastruktur energi strategis lainnya di Indonesia.
Dengan dimulainya pembangunan pipa WNTS–Pemping, Indonesia selangkah lebih dekat menuju kedaulatan energi — di mana gas dari laut sendiri tidak lagi sekadar komoditas ekspor, tetapi menjadi penggerak utama listrik, industri, dan pertumbuhan ekonomi nasional.












