Good News! Indonesia Borong Energi AS Rp253 Triliun per Tahun, Sekaligus Incar 50 Pesawat Boeing

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com — Pemerintah Indonesia memastikan langkah besar dalam kerja sama dagang dengan Amerika Serikat. Lewat kesepakatan tarif resiprokal (Agreement on Reciprocal Tariff/RAT) yang diteken Kamis (19/2) waktu AS, Indonesia berkomitmen membeli gas dan minyak mentah dari Negeri Paman Sam senilai 15 miliar dolar AS per tahun atau sekitar Rp253,32 triliun (kurs Rp16.896).

Komitmen impor energi tersebut mencakup pembelian LPG senilai 3,5 miliar dolar AS, minyak mentah 4,5 miliar dolar AS, serta bensin olahan 7 miliar dolar AS.

CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Perkasa Roeslani, menyebut kesepakatan ini menjadi salah satu hasil konkret negosiasi ekonomi bilateral.

“Ada kesepakatan untuk melakukan impor gas dan crude oil, nilainya 15 miliar dolar AS per tahunnya,” ujarnya dalam konferensi pers daring, Jumat (20/02/2026).

Tak hanya energi, kesepakatan ini juga membuka jalan pembelian 50 pesawat buatan produsen asal Washington, Boeing. Rosan mengatakan pembicaraan awal sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya, namun setelah RAT diteken, pembahasan akan dilanjutkan lebih intensif.

“Nantinya kita akan bicarakan dengan Boeing walaupun sudah ada pembicaraan awal dengan pihak Boeing, dan ini akan kita lanjutkan,” jelasnya.

Langkah tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa kerja sama dagang Indonesia–AS tidak hanya berfokus pada komoditas, tetapi juga sektor industri strategis berteknologi tinggi.

Selain transaksi pembelian, Indonesia juga mengantongi komitmen investasi dari AS. Rosan menyebut sejumlah proyek sudah masuk tahap penjajakan, terutama di sektor minyak dan gas serta beberapa bidang lain yang masih dalam pipeline.

Menurutnya, sebagian implementasi investasi tersebut akan berada di bawah koordinasi Danantara, lembaga pengelola investasi strategis nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan perjanjian ini bukan sekadar transaksi dagang, melainkan fondasi kerja sama jangka panjang. Tujuannya adalah memperkuat rantai pasok global, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.

Kesepakatan ini juga melahirkan Council of Trade and Investment, forum khusus yang akan mengawal realisasi proyek dan investasi kedua negara.

“Indonesia dan Amerika Serikat sepakat untuk memperkuat kerja sama ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Airlangga.

Pemerintah memandang perjanjian ini sebagai bagian dari strategi besar menuju visi Indonesia Emas 2045. Tak heran, kedua pihak menyebutnya sebagai momentum menuju “New Golden Age” hubungan ekonomi Indonesia–AS—sebuah fase baru kolaborasi yang diproyeksikan berdampak luas, dari energi hingga industri aviasi.