Good News! Negosiasi LNG Masela Mengerucut, Harga Tinggal Selisih 0,2% Brent

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tokyo, Jepang, ruangenergi.com – Proses negosiasi penjualan LNG dari Proyek Abadi Masela memasuki tahap krusial. Dari semula 66 calon pembeli internasional, kini tersisa lima perusahaan energi global yang tengah membahas kesepakatan akhir harga bersama pemerintah dan konsorsium pengembang proyek.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan bahwa negosiasi intensif berlangsung di Singapura dan Tokyo, melibatkan tim teknis dari Inpex, Pertamina, dan Petronas bersama para calon pembeli. Saat ini, perbedaan tawaran harga antara penjual dan pembeli semakin tipis, hanya sekitar ±0,2% dari harga minyak Brent, menandakan kesepakatan sudah berada di tahap akhir.

Lima calon pembeli potensial yang masih bertahan dalam negosiasi adalah Osaka Gas, Kyushu Electric, Shell Trading, bp Trading, dan Chevron Trading. Rata-rata penawaran harga yang diajukan para pembeli berada di kisaran sekitar 12% dari harga Brent.

Menurut Djoko, pada putaran negosiasi terakhir yang berlangsung di kantor bp dan Shell di Singapura hingga pertemuan lanjutan di Tokyo, seluruh pihak telah menyampaikan proposal final harga LNG masing-masing.

“Untuk pertama kalinya Kepala SKK Migas memimpin langsung proses negosiasi bersama Inpex, Pertamina, dan Presiden Direktur Petronas dengan para buyer internasional. Para pembeli memberikan apresiasi terhadap langkah ini,” ujar Djoko dalam laporannya, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Dalam rencana pengembangan atau Plan of Development (PoD) Proyek Masela, sekitar 60% produksi LNG dialokasikan untuk ekspor dan 40% untuk pasar domestik. Namun pemerintah kini memiliki kartu tawar kuat.

Jika para pembeli internasional tidak menyepakati harga yang diajukan konsorsium penjual, maka seluruh volume LNG berpotensi dialihkan ke pasar domestik melalui PT PGN.

Langkah ini dinilai dapat memperkuat ketahanan energi nasional, sekaligus mengangkat posisi PGN sejajar dengan pembeli LNG kelas dunia seperti perusahaan utilitas Jepang maupun perusahaan trading energi global.

“PGN kali ini berpotensi menjadi pahlawan bagi negeri karena mampu menyerap LNG untuk kebutuhan domestik,” kata Djoko.

SKK Migas menargetkan kesepakatan harga dapat dicapai paling lambat bulan depan. Setelah itu, kontrak jual beli LNG dalam bentuk Heads of Agreement (HOA) atau Gas Sales Agreement (GSA) yang bersifat mengikat ditargetkan ditandatangani pada ajang Indonesian Petroleum Association (IPA) Convention Mei 2026, di hadapan Menteri ESDM dan Presiden RI.

Sebelumnya pada IPA tahun lalu telah ditandatangani HOA non-binding antara konsorsium Inpex Masela dengan pembeli domestik, yakni PLN, PGN, dan PT Pupuk Indonesia.

Jika kontrak penjualan LNG telah diteken, tahap berikutnya adalah negosiasi pembiayaan dengan lembaga keuangan untuk mendukung pembangunan proyek Abadi Masela. Targetnya, keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) dapat dicapai pada Desember 2026.

Djoko menambahkan, apabila proses pendanaan dari lembaga keuangan berjalan lambat, pemerintah membuka opsi dukungan dari Danantara agar proyek strategis tersebut tidak kembali tertunda.

Di luar Masela, pemerintah juga menghadapi pekerjaan besar lain yakni pengembangan Lapangan Gas Natuna D-Alpha yang selama puluhan tahun belum terealisasi.

Lapangan ini memiliki cadangan gas sangat besar, sekitar 165 triliun kaki kubik (TCF) dengan kandungan CO₂ sekitar 72% dan metana 28% atau sekitar 46 TCF gas yang dapat dimanfaatkan—empat kali lebih besar dari cadangan Masela.

Saat ini wilayah kerja tersebut dioperasikan oleh KUFPEC, perusahaan hulu migas milik Kuwait, yang tengah mencari mitra strategis untuk mengembangkan proyek tersebut. Negosiasi dengan calon mitra potensial masih berlangsung, meski belum mencapai kesepakatan karena isu harga pengembangan yang dinilai tinggi.

Djoko berharap momentum positif yang terjadi pada negosiasi LNG Masela dapat menjadi pendorong bagi percepatan proyek-proyek gas besar lainnya di Indonesia.

“Semoga semua proses berjalan lancar sesuai jadwal sehingga lifting migas nasional dapat terus meningkat,” ujarnya.