Sumsel, ruangenergi.com — Kabar menggembirakan datang dari sektor hulu migas. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan langsung kepada Menteri dan Wakil Menteri ESDM keberhasilan inovasi sederhana namun berdampak besar yang dilakukan para Perwira Pertamina.
Tanpa pengeboran sumur baru, produksi LPG melonjak dari 55 metrik ton per hari (MTD) menjadi 85 MTD, sementara kondensat naik dari 200 barel per hari (BOPD) menjadi 350 BOPD. Bahkan, kapasitas LPG masih bisa didorong hingga 100 MTD.
“Ini murni hasil inovasi teknis di fasilitas yang sudah ada. Biayanya kecil, tapi dampaknya luar biasa,” kata Djoko dalam laporannya, Kamis (22/01/2026).
Inovasi ini memanfaatkan gas yang selama ini mengalir di pipa dan masih mengandung molekul C3 dan C4 (propana dan butana)—komponen utama LPG—namun belum dimanfaatkan maksimal.
Solusinya terbilang sederhana: Pipa sepanjang 10 km berdiameter 8 inci dipasang menuju fasilitas LPG Plant terdekat. Kompresor digunakan untuk menaikkan tekanan. Refrigerator memisahkan molekul C3 dan C4 menjadi LPG. Proses ini sekaligus menghasilkan tambahan kondensat.Hasilnya: gas yang sebelumnya “lewat begitu saja” kini berubah menjadi produk bernilai tinggi.
Yang membuat terobosan ini semakin menarik adalah sisi ekonominya. Total investasi hanya USD 3,6 juta, lebih rendah dari anggaran (AFE) yang disetujui SKK Migas sebesar USD 4 juta. Lebih hebat lagi, break even point (BEP) hanya 6 bulan.
“Ini contoh nyata bagaimana efisiensi dan kreativitas bisa langsung berdampak pada ketahanan energi nasional,” ujar Djoko, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com.
Melihat keberhasilan ini, SKK Migas dan Pertamina bertekad melakukan kampanye besar-besaran agar teknologi serupa diterapkan di seluruh lapangan gas—baik milik Pertamina maupun KKKS lainnya.
Gas yang mengandung C3 dan C4 wajib diekstraksi menjadi LPG.
Tujuannya jelas, yakni: .Menekan impor LPG. Memperkuat ketahanan energi nasional.Menjamin pasokan LPG bagi masyarakat
Djoko menutup laporannya dengan harapan agar produksi LPG nasional terus meningkat.
“Dengan doa dan kerja bersama, semoga Indonesia bisa semakin mandiri energi,” ujarnya.
Langkah kecil, dampak besar. Inovasi ini membuktikan bahwa masa depan energi Indonesia tidak selalu harus dimulai dari sumur baru—tetapi dari cara baru memanfaatkan yang sudah ada.












