Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Rumor baru beredar di kalangan trader minyak internasional. Sejumlah pelaku pasar menyebut minyak mentah asal Venezuela kemungkinan akan diblending dengan crude dari Iran sebelum dipasarkan ke pasar global, sebuah praktik yang dinilai masuk akal secara teknis sekaligus menarik dari sisi perdagangan.
Meski belum ada konfirmasi resmi, pembicaraan ini cukup ramai di lingkaran perdagangan minyak, terutama karena karakteristik kedua crude tersebut yang saling melengkapi. Ruangenergi.com mendapatkan informasi tersebut dari salah satu trader di Indonesia yang menolak disebut namanya, Rabu (11/03/2026), di Jakarta.
Rumor menyebutkan, secara kualitas, minyak mentah Venezuela dikenal sebagai salah satu crude paling berat di dunia. Banyak produksi dari kawasan Orinoco Belt memiliki API gravity sangat rendah, bahkan hanya sekitar 8–16 derajat API. Kondisi ini membuat minyaknya sangat kental dan sulit dialirkan melalui pipa maupun diangkut tanpa perlakuan khusus.
Sebaliknya, Iran memiliki sejumlah grade crude yang relatif lebih ringan, seperti Iranian Light dengan API gravity sekitar 33 derajat dan Iranian Heavy di kisaran 30 derajat API. Kedua jenis ini termasuk kategori medium sour crude yang cukup umum diproses di kilang kompleks di Asia.
Di sinilah blending menjadi solusi teknis. Dengan mencampurkan crude yang lebih ringan seperti Iranian Light atau bahkan kondensat Iran, viskositas minyak Venezuela dapat diturunkan sehingga lebih mudah dipompa melalui pipeline maupun dimuat ke kapal tanker. Praktik ini pada dasarnya mirip dengan produksi diluted crude oil (DCO) yang selama ini digunakan untuk mengekspor minyak ekstra berat Venezuela.
Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, laporan industri menyebut kondensat Iran pernah digunakan sebagai diluent untuk membantu meningkatkan produksi dan transportasi crude berat Venezuela, terutama dari kawasan Orinoco.
Di pasar trading, rasio pencampuran biasanya berada di kisaran 20–40 persen crude ringan untuk menghasilkan blend dengan API gravity lebih tinggi—misalnya di rentang 16–20 derajat API—agar memenuhi spesifikasi transportasi dan pengolahan di kilang.
Selain faktor teknis, blending ini juga dipandang sebagai strategi perdagangan. Hubungan energi antara kedua negara sudah terjalin lama, terutama sejak sanksi internasional menekan ekspor minyak mereka. Kerja sama tersebut bahkan mencakup pasokan bensin, perbaikan kilang, hingga pengiriman komponen blending untuk sektor energi Venezuela.
Bagi sejumlah kilang di Asia—terutama kilang kompleks dengan unit upgrading dan desulfurisasi—minyak jenis heavy dan sour justru menarik karena sering dijual dengan diskon dibanding crude ringan.
Karena itu, jika gosip blending Iran–Venezuela ini benar terjadi, langkah tersebut tidak hanya menjadi solusi teknis untuk mengalirkan minyak ekstra berat, tetapi juga membuka peluang baru dalam strategi perdagangan minyak global.
Fenomena ini sekali lagi menunjukkan bahwa di pasar energi dunia, perpaduan kimia, geopolitik, dan strategi perdagangan sering melahirkan skenario yang tak terduga.


