Hoki di Rokan! Sumur Baru Pertamina Semburkan Minyak ‘Murni’ 13 Kali Lipat dari Target

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Rokan, 15 Februari 2026 — Kabar menggembirakan datang dari industri hulu migas nasional. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, melaporkan keberhasilan pengeboran infill drilling di Lapangan Libo yang dioperasikan Pertamina Hulu Rokan. Sumur Libo SE#86 mencatat hasil uji produksi mencapai 1.274 barel minyak per hari (BOPD) — melonjak jauh di atas target awal 98 BOPD.

“Ini kabar baik. Hasilnya 13 kali lipat dari target,” ujar Djoko dalam laporan resminya kepada jajaran Kementerian ESDM, seperti diceritakan kepada ruangenergi.com

Keistimewaan sumur ini bukan hanya pada volume produksinya. Kandungan air tercatat 0% dan gas hanya 0,16 MMSCFD. Di wilayah Rokan yang dikenal memiliki tantangan water cut tinggi, capaian ini tergolong sangat jarang terjadi.

Minyak berasal dari lapisan Top Menggala Sand pada kedalaman sekitar 5.680 kaki dengan permeabilitas maksimum 2,2 Darcy — angka yang menunjukkan batuan reservoir memiliki kemampuan sangat baik dalam mengalirkan fluida hidrokarbon.

Tim teknis menerapkan beberapa inovasi untuk mengoptimalkan hasil, antara lain:Selective perforation pada zona jauh dari kontak air.  Instalasi ESP (Electric Submersible Pump) ber-rate rendah.Penambahan Advanced Gas Handling (AGH) dan gas separator

Strategi ini terbukti efektif meningkatkan deliverability sumur sekaligus menjaga stabilitas produksi jangka panjang.

Meski uji awal menunjukkan lebih dari 1.200 BOPD, operator menargetkan produksi stabil di kisaran 500 BOPD dalam periode panjang — lima kali lipat dari target awal.

Optimisme semakin kuat karena masih ada empat sumur infill lain yang akan dibor di area yang sama. Jika hasilnya serupa, kontribusi Lapangan Libo berpotensi signifikan terhadap kenaikan lifting nasional.

Djoko menutup laporannya dengan nada optimistis: “Lifting naik — bisa, bisa, bisa.”

Keberhasilan Libo SE#86 memberi sinyal penting: strategi infill drilling di lapangan mature masih memiliki potensi besar bila dikombinasikan dengan desain completion dan artificial lift yang tepat. Dalam konteks target produksi nasional yang menantang, capaian seperti ini menjadi indikator bahwa optimalisasi lapangan eksisting tetap menjadi tulang punggung peningkatan produksi migas Indonesia.