Hot Info! SKK Migas Umumkan Kabar Gembira: Sumur ABB-145 Abab Produksi 505 BOPD, Water Cut 0 Persen

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Di tengah tantangan menjaga tren produksi migas nasional, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan kabar menggembirakan kepada Menteri ESDM, Wakil Menteri, dan jajaran Komisi Pengawas SKK Migas.

Sumur pengembangan ABB-145 yang dibor oleh Pertamina EP Asset 2 (Pertamina Hulu Rokan Region 1 Zona 4) di Struktur Abab, Sumatera Selatan, mencatat hasil produksi awal yang menjanjikan: 505 barel minyak per hari (BOPD) dan 5,1 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD) — dengan kandungan air (water cut) 0 persen.

“Alhamdulillah, ini good news untuk kita semua,” demikian laporan yang disampaikan Djoko Siswanto, menegaskan bahwa pengeboran di antara lapangan-lapangan existing kembali membuahkan hasil temuan hidrokarbon. Djoko bercerita hal itu kepada ruangenergi.com

Secara geografis, Lapangan Abab terletak sekitar 95 kilometer barat laut Kota Palembang, dikelilingi Lapangan Dewa di barat daya, Lapangan Raja di selatan, dan Lapangan Air Hitam di barat laut.

Pengeboran di area yang diapit lapangan-lapangan produktif ini mempertegas potensi upside di struktur yang selama ini telah berkontribusi terhadap produksi nasional.
Sumur ABB-145 dibor menggunakan metode Directional (J-Type) dengan Rig PDSI#05.2/OW760-M hingga kedalaman akhir 1.930 meter measured depth (mMD).

Pengeboran dimulai pada 31 Januari 2026 dan selesai pada 1 Maret 2026 dengan total durasi 30 hari — dua hari lebih lama dari rencana awal 28 hari.

Namun dari sisi biaya, proyek ini justru menunjukkan efisiensi tinggi. Realisasi anggaran tercatat hanya 89,06 persen dari AFE original yang telah disetujui SKK Migas. Dengan kata lain, meski sedikit melampaui target waktu, biaya tetap terkendali di bawah pagu.

Target utama pengeboran adalah lapisan TAF-E, dengan target tambahan TAF-D. Uji produksi dilakukan pada lapisan TAF-E1 (interval 1.827,25–1.828 mMD), menghasilkan minyak dan gas tanpa kandungan air — indikator kualitas reservoir yang sangat baik.

Keberhasilan ini juga menjadi bagian dari program 3PLe 100, yakni dorongan agresif pengeboran di struktur atau lapangan baru untuk menjaga keberlanjutan produksi nasional.

Temuan hidrokarbon di antara lapangan existing menjadi bukti bahwa strategi intensifikasi dan eksplorasi lanjutan di area mature masih sangat relevan.

Water cut 0 persen menjadi sorotan penting. Dalam industri hulu migas, kandungan air nol persen pada fase awal produksi mencerminkan kondisi reservoir yang masih prima dan berpotensi memberikan kurva penurunan (decline) yang lebih landai jika dikelola dengan tepat.

Tahap berikutnya adalah melanjutkan uji produksi dan mengalirkan sumur pada laju optimum guna menjaga kualitas reservoir agar penurunan produksi tidak terjadi terlalu cepat.

Djoko Siswanto menutup laporannya dengan optimisme dan harapan: produksi dapat terjaga dalam jangka panjang, sekaligus berkontribusi pada target lifting nasional.

Seruan pun digaungkan dengan penuh semangat:

“Lifting Naik: BISA! BISA! BISA!”