Hutan Lestari, Dompet Terisi: Cara Cerdas PHM Manjakan Petani Balikpapan Lewat Agroforestri

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Balikpapan, Kalimantan Timur, ruangenergi.com-Kawasan Hutan Lindung Manggar dan Sungai Wain di Balikpapan, Kalimantan Timur, kini punya wajah baru. Tidak sekadar rimbun oleh pepohonan kayu, kawasan seluas 345 hektare tersebut kini bertransformasi menjadi lahan produktif yang menjanjikan cuan bagi warga sekitar.

Langkah strategis ini diinisiasi oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bersama SKK Migas Wilayah Kalimantan Sulawesi (Kalsul) melalui Program Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Puncak kegiatan penanaman yang digelar serentak di Wilayah Kerja Mahakam dan DAS Manggar Kilometer 12 Balikpapan pada 20 Desember 2025 lalu, menandai komitmen serius perusahaan pelat merah tersebut dalam menjaga napas bumi sekaligus dapur warga.

Uniknya, rehabilitasi ini tidak asal tanam. PHM menerapkan sistem agroforestri, sebuah metode cerdas yang mengawinkan pelestarian alam dengan pertanian. Di lahan Kelurahan Karang Joang ini, setiap hektarnya ditanami 400 tanaman pokok dan 100 tanaman sela.

Komposisinya pun menggiurkan. PHM memilih bibit unggul lokal kategori Multi Purpose Tree Species (MPTS) seperti durian, manggis, nangka, leci, hingga alpukat dan kelengkeng. Tanaman buah ini disandingkan dengan “penjaga hutan” asli Kalimantan seperti meranti, ulin, pulai, dan jelutung. Tak ketinggalan, tanaman sela bernilai ekonomi tinggi seperti kopi, pala, dan kayu manis juga ikut disebar.

“Melalui program rehabilitasi DAS dari PHM, lahan seluas 214 hektare yang sebelumnya sebagian merupakan lahan terbuka dan monokultur kini telah tertanami berbagai jenis MPTS dengan pola agroforestri,” ujar Perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH), Hepi Eko Rahmanto.

Bagi Hepi dan rekan-rekannya di KTH Sungai Wain, program ini adalah jawaban atas kecemasan mereka terhadap bencana alam. Sejak 2024, dukungan PHM mulai dari pembiayaan hingga pendampingan perawatan telah mengubah lahan tidur menjadi harapan baru.

Senada dengan Hepi, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mitra Wana Lestari, Syaifuddin, mengapresiasi langkah PHM yang dinilainya konkret. Ia menyebut kolaborasi ini membuktikan bahwa konservasi dan ekonomi tidak harus saling sikut.

“Kegiatan ini menjadi bukti bahwa hutan lestari dan masyarakat sejahtera dapat berjalan beriringan. Pengembangan hutan yang dipadukan dengan kebun buah membuka harapan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat sekitar,” tuturnya antusias.

General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari pemenuhan kewajiban Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH). Saat ini, PHM memegang delapan SK PPKH di Kutai Kartanegara.

Namun, bagi Setyo, ini lebih dari sekadar menggugurkan kewajiban regulasi.

“PHM berkomitmen memastikan pelaksanaan rehabilitasi DAS memberikan manfaat nyata. Kami memilih jenis tanaman unggul sesuai kebutuhan lokal serta mendukung program pemerintah dalam penurunan emisi karbon,” tegas Setyo.

Kini, dengan status pemeliharaan tahun pertama (P1) yang telah disahkan KLHK, kawasan Hutan Lindung Manggar dan Sungai Wain bersiap menjadi benteng ekologis sekaligus sentra ekonomi baru. Ke depan, kawasan ini tak hanya diharapkan menghasilkan buah-buahan segar dan hasil hutan bukan kayu, tetapi juga berpotensi menjadi destinasi wisata alam berbasis lingkungan.