Menteri ESDM Arifin Tasrif

Impor Jadi Tantangan Berat Indonesia Dalam Transisi Energi

Jakarta, Ruangenergi.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan bahwa Indonesia saat ini masih ketergantungan dengan impor energi, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hal tersebut tentunya menjadi tantangan yang cukup berat bagi Pemerintah dalam bertransisi energi alias mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menyebut, salah satu tantangan berat dalam menjaga perekonomian Indonesia adalah ketergantungan dengan impor energi.

“Ketergantungan impor energi menjadi salah satu tantangan berat bagi pemerintah dalam menjaga perekonomian dan ketahanan energi nasional,” terang Arifin, (11/10).

Menurutnya, pola gaya hidup yang kian modern, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi, menjadi salah satu penyebab meningkatnya kebutuhan masyarakat akan energi.

Untuk itu, Kementerian ESDM, berkomitmen untuk terus menyediakan energi dalam jumlah yang cukup, merata, terjangkau dan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, terlebih masyarakat yang tinggal di wilayah Terdepan, Terluar, Tertinggal (3T).

Meski hingga saat ini Indonesia masih mengandalkan energi berbasis fosil, akan tetapi kedepannya Pemerintah akan mendorong penggunaan EBT.

Sebelumnya, dalam Pertemuan Tingkat Menteri Energi G20, Indonesia berkomitmen menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 142 juta ton CO2 atau 29% hingga 2030.

BACA JUGA  Chevron Setop Pengeboran Blok Rokan, Pengamat: Ini Sangat Mengganggu Stok Migas Nasional

Pertemuan tersebut berhasil mencapai kesepakatan Komunike Bersama Menteri Energi G20 dan menyepakati dokumen terkait Circular Carbon Economy (CCE) Platform.

Dalam dokumen CCE Platform tersebut, para Menteri Energi G20 sepakat bahwa biofuel adalah salah satu komponen penting untuk menurunkan emisi GRK melalui teknologi dan inovasi, serta menetralkan emisi karbon melalui proses alami dan dekomposisi.

B30

Bangun Kemandirian Energi Lewat Biofuel

Menteri ESDM, Arifin Tasrif, mengatakan, terkait pemanfaatan biofuel, Indonesia tengah melakukan upaya membangun kemandirian dan kedaulatan energi nasional dengan mendorong peningkatan pemanfaatan biofuel.

Salah satu inovasi yang berhasil dilakukan adalah implementasi Biodiesel 30% (B30) di sektor transportasi, yang diperkirakan dapat menurunkan emisi sebesar 16,9 juta ton CO2e.

“Program pemanfaatan biodiesel ini menjadi bentuk nyata partisipasi aktif Indonesia dalam aksi penurunan emisi GRK global,” imbuh Arifin.

Selain itu, Indonesia juga telah menemukan katalis yang efektif dalam proses produksi fraksi (jenis bentukan) minyak bumi dengan bahan bakar minyak sawit atau green fuels di kilang Pertamina, yakni Katalis Merah Putih.

Biofuel bersama Hidrogen diyakini dapat memainkan peranan unik dalam percepatan transisi energi menuju sistem energi yang lebih bersih di masa depan dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *