Indonesia–Brunei Perkuat Sinergi Energi di Tokyo, Peluang Kolaborasi di EBT

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tokyo, Jepang, ruangenergi.com– Di tengah dinamika agenda energi global yang kian kompleks, Indonesia dan Brunei Darussalam memanfaatkan momentum pertemuan internasional di Tokyo untuk memperkuat kerja sama strategis di sektor energi. Kedua negara membahas sejumlah langkah konkret, mulai dari penguatan ketahanan pasokan minyak hingga peluang kolaborasi dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dengan Deputy Minister (Energy) at the Prime Minister’s Office Brunei Darussalam, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi Bin Haji Mohd Hanifah. Pertemuan berlangsung di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026) waktu setempat.

Pertemuan ini menjadi babak baru dalam hubungan energi kedua negara. Brunei, yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen minyak dan gas utama di Asia Tenggara, mulai melirik pengalaman Indonesia dalam melakukan transformasi energi dan diversifikasi pembangkit listrik berbasis EBT.

“Ini momentum emas bagi kolaborasi kawasan. Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai sumber. Sementara Brunei saat ini masih memanfaatkan sekitar 99% gas untuk pembangkit listriknya dan ingin mulai mengurangi porsi tersebut,” ujar Bahlil usai pertemuan, dikutip dari website ESDM.

Menurut Bahlil, Brunei tengah menyiapkan rencana besar untuk meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasionalnya hingga lima kali lipat dari kondisi saat ini. Negara tersebut menargetkan penambahan sekitar 4 gigawatt (GW) dari kapasitas eksisting yang saat ini sekitar 1 GW.

Pertemuan di sela forum IPEM Tokyo ini menjadi sinyal kuat bahwa hubungan energi Indonesia dan Brunei tengah bergerak menuju tahap yang lebih strategis. Mulai dari potensi kerja sama pasokan minyak, pengembangan hidrogen hijau, hingga investasi infrastruktur energi di wilayah terpencil.

Sinergi dua negara serumpun ini diharapkan tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menjadi fondasi penting bagi ketahanan dan kemandirian energi di kawasan Asia Tenggara.