Indonesia Dorong Kolaborasi Energi di Forum Indo-Pasifik, Bahlil: Jangan Saling Menjatuhkan di Tengah Krisis Pasokan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tokyo, Jepang, ruangenergi.com – Ketegangan geopolitik global yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi kembali menjadi sorotan dalam forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) yang berlangsung di Tokyo, Jepang, Minggu (15/03/2026) waktu setempat.

Forum yang mempertemukan para menteri energi serta pelaku industri dari negara-negara kawasan Indo-Pasifik tersebut membahas strategi memperkuat kerja sama regional guna menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian pasokan global, terutama akibat konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya kolaborasi antarnegara agar stabilitas energi global tetap terjaga.

“Di tengah ketidakpastian pasokan energi dunia saat ini, kita perlu memperkuat kolaborasi yang saling mengangkat satu sama lain, bukan justru saling menjatuhkan,” kata Bahlil di hadapan para delegasi, dikutip dari website ESDM.

Ia mencontohkan kontribusi Indonesia dalam menjaga stabilitas pasokan energi dunia melalui ekspor komoditas energi strategis.

Sepanjang 2025, Indonesia tercatat mengirimkan sekitar 150 kargo Liquefied Natural Gas (LNG) ke pasar global. Selain itu, Indonesia juga memasok sekitar setengah dari perdagangan batu bara dunia, menjadikannya salah satu penopang utama pasokan energi internasional.

Menurut Bahlil, kontribusi tersebut menunjukkan komitmen Indonesia dalam memperkuat keamanan energi global di tengah situasi geopolitik yang tidak menentu.

Meski demikian, Bahlil mengingatkan bahwa setiap negara pada akhirnya akan memprioritaskan kepentingan domestiknya apabila pasokan energi global tidak dapat dijamin melalui kerja sama yang saling menguntungkan.

Sebagai negara yang masih mengimpor minyak, Indonesia harus memastikan kebutuhan energinya tetap aman.

“Jika kebutuhan minyak tersebut tidak dapat kami amankan maka kami tidak memiliki pilihan kecuali memanfaatkan potensi energi yang ada di dalam negeri, termasuk meningkatkan porsi Crude Palm Oil yang diubah menjadi biodiesel,” ujarnya.

Indonesia sendiri merupakan produsen dan eksportir CPO terbesar di dunia, dengan volume ekspor mencapai sekitar 30 juta ton per tahun.

Dalam forum tersebut, Bahlil juga menyinggung realitas transisi energi global. Meski Perjanjian Paris mendorong pengurangan penggunaan batu bara, faktanya banyak negara justru meningkatkan impor batu bara, termasuk dari Indonesia.

“Meski ada Perjanjian Paris yang mendesak transisi dari batu bara, faktanya saat ini banyak negara yang meningkatkan impor batu bara dari Indonesia,” jelasnya.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia tetap berkomitmen mendorong transisi energi melalui pengembangan energi terbarukan dan diversifikasi sumber energi.

Salah satu langkah strategis yang tengah didorong adalah program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt sebagaimana diarahkan Presiden Prabowo Subianto.

Program tersebut juga diprioritaskan untuk menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang selama ini banyak digunakan di wilayah terpencil.

“Indonesia sangat berkomitmen untuk terus mendorong transisi energi, termasuk melalui program PLTS 100 GW dengan prioritas jangka pendek berupa eliminasi PLTD diesel dengan PLTS,” tegas Bahlil.

Sebagai informasi, Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum merupakan forum tingkat tinggi yang mempertemukan pemerintah dan pelaku usaha energi untuk membahas keamanan pasokan energi di kawasan Indo-Pasifik.

Forum ini diselenggarakan bersama oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang serta National Energy Dominance Council Amerika Serikat.

Pertemuan tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang menegaskan pentingnya memperkuat ketahanan energi kawasan, sekaligus menghormati jalur transisi energi yang dipilih masing-masing negara.