Indonesia Jalan di Tempat Jikalau Tidak Melakukan Hilirisasi Sumber Daya Alam

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta,ruangenergi.com-Negara Indonesia terancam jalan di tempat, jikalau tidak melakukan hilirisasi sumber daya alam.

Di sisi lain, supaya pertumbuhan ekonomi nasional bagus ke depan nanti, maka hilirisasi sumber daya alam menjadi faktor penentunya.

Di dalam kondisi Indonesia jika tanpa kebijakan hilirisasi, membuat negeri ini jalan di tempat, tidak berkembang. Nasib Indonesia akan begitu-begitu saja.

Demikian pesan moral yang dilantunkan oleh Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam acara Pembekalan Calon Wisudawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, dilansir dari siaran YouTube Kementerian Investasi/BKPM, Selasa (22/8/2023).

“Ini yang kita akan bangun hilirisasi supaya pertumbuhan ekonomi nasional kita bagus ke depan. Kalau ini (hilirisasi) tidak kita lakukan, negara kita akan tetap berjalan di tempat,” ucap Bahlil

Lebih lanjut, Bahlil menuturkan, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain hilirisasi. Pasalnya, hilirisasi akan membuat Indonesia lebih untung dengan mengekspor barang jadi,” ucap Bahlil di hadapan para wisudawan sarjana baru UGM.

Menurut pria yang asli dari Fakfak, Papua, dunia sekarang sudah mendorong kepada green energy dan green industry untuk menurunkan emisi.

“Indonesia sekarang kita dorong semua ke hilirisasi karena kalau tidak ada hilirisasi kita cuma mengekspor barang-barang mentah,”tegasnya.

Kementerian Investasi/BKPM,lanjut Bahlil., ke depan nanti bukan hanya hasil tambang yang akan didorong untuk melakukan hilirisasi, tetapi berbagai komoditas lain akan dilakukan hal serupa.

Bahlil mencontohkan nikel yang telah berhasil dilakukan hilirisasi dan menciptakan nilai tambah. Bahlil menyebut nilai ekspor nikel melejit setelah dilakukan penghentian ekspor bahan mentah.

“Nikel tahun 2017-2018 kita melarang ekspor, total ekspor nikel kita waktu itu hanya 3,3 miliar dolar AS. Begitu kita larang ekspor, kita bangun hilirisasi, sekarang nilai ekspor kita sudah mencapai 30 miliar dolar AS, naiknya 10 kali lipat ketimbang kita belum melakukan hilirisasi,” ungkap Bahlil.

Dalam catatan ruangenergi.com, Direktur Hilirisasi Mineral dan Batubara Kementerian Investasi/BKPM RI Hasyim menjelaskan, ketika Indonesia melarang ekspor ore, akibatnya industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya mengalami kenaikkan permintaan.

Ini menunjukkan hilirisasi terus meningkat di Indonesia dari tahun ke tahun. Buktinya, nilai investasi industri logam ini meningkat dari 177,9 persen dalam waktu 4 tahun terakhir.

Hilirisasi sumber daya alam menjadi komoditas dimana pengolahan nikel menjadi baterai kendaraan listrik.

“Investasinya ada di Sulawesi Tengah, Maluku Utara,Sulawesi Tenggara. Di mana investasi yang bekerjasama dengan BUMN, dengan swasta nasional bidang industri prekursor, katoda, dan baterai listrik. Begitu juga gasifikasi batubara menjadi dimetil eter (DME). Rencana investasi bekerjasama dengan BUMN dan swasta nasional di bidang industri batubara serta turunannya kita dorong yang ada di Sumatera Selatan,” kata Direktur Hilirisasi Mineral dan Batubara Kementerian Investasi/BKPM RI Hasyim dalam webinar bertajuk “Peluang Investasi Hilirisasi Sektor Mineral. Pengembangan Produk Nilai Tambah Tinggi Untuk Komoditasi Nikel dan Bauksit”, Senin (14/08/2023) di Jakarta.

Hisyam optimis dampak ekonomi apabila terjadi hilirisasi industri ini terlaksana, nantinya akan ada investasi yang cukup tinggi, tenaga kerja diproyeksikan akan terus meningkat, PDB (produk domestik bruto) bertambah untuk produk-produk bahan jadi.