Indonesia–Jepang Perkuat Kerja Sama Mineral Kritis dan Nuklir, Dorong Ketahanan Energi Kawasan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Tokyo, Jepang, ruangenergi.com-Di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks serta meningkatnya kebutuhan terhadap energi bersih, penguatan kerja sama internasional menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi rendah karbon. Mineral kritis dan teknologi energi maju kini semakin dipandang sebagai kunci penting dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission).

Komitmen tersebut tercermin dalam sejumlah kesepakatan yang dicapai dalam rangkaian Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang. Forum ini menjadi panggung bagi pemerintah Indonesia untuk terus memperkuat kolaborasi energi internasional demi menopang ketahanan energi nasional di tengah tantangan global.

Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia Bahlil Lahadalia dengan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang Ryosei Akazawa, yang berlangsung di sela forum tersebut, Minggu (15//03/2026), seperti dikutip dari website ESDM.

Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) di dua sektor strategis, yakni pengembangan mineral kritis dan energi nuklir. Kerja sama ini diharapkan menjadi fondasi penting bagi sistem energi yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan di kawasan Asia-Pasifik.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia membuka peluang luas bagi Jepang untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya mineral kritis yang dimiliki Tanah Air.

“Saya sangat menyambut baik memorandum yang kita tandatangani hari ini, khususnya di bidang mineral kritis. Kami sangat terbuka dan dengan senang hati meminta kepada pemerintah Jepang maupun pengusaha Jepang untuk bersama-sama mengelola mineral kritis yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral global. Cadangan nikel Indonesia bahkan mencapai sekitar 43 persen dari total cadangan dunia, di samping potensi besar bauksit, timah, tembaga, hingga logam tanah jarang.

“Indonesia punya cadangan nikel yang sangat besar, juga bauksit, timah, tembaga, hingga potensi logam tanah jarang. Jika kolaborasi ini dapat diimplementasikan dengan baik, saya pikir ini akan menjadi langkah yang sangat positif,” tambahnya.

Kerja sama di sektor mineral kritis ini diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global agar lebih aman dan andal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi bersih melalui pemanfaatan sumber daya strategis yang dimiliki Indonesia.

Sementara itu, Menteri METI Jepang Ryosei Akazawa menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara dalam menghadapi ketidakpastian global yang semakin meningkat, terutama dalam menjaga stabilitas pasokan energi.

“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujar Akazawa.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Indonesia dalam penyediaan pasokan Liquefied Natural Gas (LNG) ke Jepang, yang selama ini menjadi salah satu pilar penting dalam hubungan energi kedua negara.

Selain itu, Jepang juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung proyek-proyek kerja sama energi dengan Indonesia, termasuk penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Legok Nangka sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara.

Di sisi lain, kerja sama di bidang energi nuklir akan difokuskan pada pengembangan teknologi dengan standar keselamatan tinggi. Melalui kemitraan ini, Indonesia diharapkan dapat memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan solusi energi rendah karbon.

Ke depan, Indonesia dan Jepang juga akan melanjutkan diskusi mengenai penguatan ketahanan energi kawasan, termasuk kerja sama pada rantai pasok LNG dan batu bara, serta percepatan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Beberapa proyek yang masuk dalam kerja sama tersebut antara lain operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla serta penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka.

Kolaborasi energi Indonesia–Jepang ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi kedua negara, tetapi juga menjadi pilar penting dalam mendorong dekarbonisasi dan transformasi energi di kawasan Indo-Pasifik.