Inggris Dorong Investasi Iklim di Indonesia, CFA Resmi Dibuka untuk Bisnis Rendah Karbon

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Pemerintah Inggris resmi meluncurkan Climate Finance Accelerator (CFA) di Indonesia. Program global ini membuka peluang besar bagi bisnis rendah karbon Tanah Air untuk naik kelas—dari sekadar ide inovatif menjadi proyek iklim berskala besar yang siap dibiayai investor internasional.

Peluncuran CFA ditandai dengan dibukanya call for proposals pada Senin (2/2/2026) di Jakarta. Program ini bertujuan mempertemukan para pengusaha iklim Indonesia dengan investor global, sekaligus memperkuat upaya pencapaian Nationally Determined Contribution (NDC) dan target net zero emission Indonesia pada 2060

Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, mengatakan CFA telah terbukti sukses di berbagai negara. Hingga kini, program tersebut telah mendukung lebih dari 200 bisnis iklim di dunia dan memfasilitasi kesepakatan investasi senilai lebih dari US$400 juta.

“Indonesia adalah mitra iklim yang sangat penting dan memiliki banyak pengusaha iklim berbakat. CFA hadir untuk membantu mereka mengatasi tantangan pendanaan dan menjadi layak investasi,” ujar Dominic dalam sambutannya, seperti dikutip dari press release yang diterima ruangenergi.com

Indonesia diperkirakan membutuhkan pembiayaan iklim hingga US$472,6 miliar untuk mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar investasi iklim paling potensial di Asia Tenggara.

CFA dirancang sebagai jembatan antara ambisi dan realisasi. Melalui pendampingan teknis dan finansial, program ini membantu bisnis menyempurnakan model usaha, struktur pembiayaan, hingga kesiapan proyek agar menarik bagi investor berdampak (impact investors).

Tahun ini, CFA Indonesia akan menyeleksi sekitar 10 bisnis dari sektor energi bersih, pengelolaan limbah, pertanian berkelanjutan, transportasi rendah emisi, proses industri (IPPU), serta kehutanan dan penggunaan lahan (FOLU). Setiap peserta harus membutuhkan investasi minimum US$3 juta.

Bisnis terpilih akan mengikuti program pendampingan intensif selama 3–4 bulan, mencakup sesi kelompok dan one-on-one mentoring dengan pakar finansial, teknis, serta isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi. Puncaknya, para peserta akan mempresentasikan proyek mereka di hadapan investor iklim global pada November 2026.

Pelaksanaan CFA di Indonesia didukung oleh PwC Consulting Indonesia. Presiden Direktur PwC Consulting Indonesia, Martijn Peeters, menegaskan pentingnya kualitas proyek dalam menarik pendanaan iklim.

“Tujuan kami adalah membantu bisnis menyampaikan peluang yang bernilai, membangun kepercayaan pasar, dan mengubah ambisi iklim menjadi proyek yang layak investasi dengan dampak terukur,” ujarnya.

Lebih dari sekadar program pendanaan, CFA juga menjadi simbol penguatan kerja sama strategis Inggris–Indonesia di bidang iklim dan pembiayaan berkelanjutan, sejalan dengan kemitraan kedua negara yang ditegaskan oleh para pemimpin di tingkat global.

Bagi pelaku usaha hijau nasional, CFA bisa menjadi pintu masuk menuju pasar modal iklim dunia—sekaligus akselerator nyata menuju ekonomi rendah karbon Indonesia.