IPA: Industri Hulu Migas Masih Punya Masa Depan Cerah di Tengah Transisi Energi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com – Di tengah gempuran isu transisi energi dan ketidakpastian global, industri hulu minyak dan gas bumi (migas) Indonesia ternyata belum kehabisan napas. Indonesian Petroleum Association (IPA) menegaskan, sektor ini masih menyimpan potensi besar—asal didukung kebijakan yang tepat dan iklim investasi yang kompetitif.

Optimisme itu disampaikan langsung oleh Vice President IPA, Ronald Gunawan, saat melakukan media visit ke sejumlah redaksi. Ia menilai, ketahanan energi nasional tetap menjadi agenda strategis pemerintah, meskipun dunia kini bergerak menuju energi bersih.

“Target produksi nasional 1 juta barel minyak per hari dan 12 BSCFD gas bukan sekadar angka. Itu adalah simbol komitmen Indonesia menuju kemandirian energi,” ujar Ronald.

Namun, ia mengingatkan bahwa sebagian besar lapangan migas di wilayah konvensional seperti Sumatra, Jawa, dan Kalimantan kini sudah memasuki fase penurunan produksi. Karena itu, eksplorasi dan pengembangan lapangan baru menjadi kunci agar industri tetap berkelanjutan.

Ronald juga mengungkapkan kabar positif dari sisi investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, minat investor terhadap sektor hulu migas Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Sejumlah perusahaan internasional kembali masuk, disusul pemain baru yang mulai menjajaki peluang.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa investasi migas bersifat jangka panjang dan penuh risiko. Karena itu, kepastian fiskal, stabilitas regulasi, serta jaminan keamanan menjadi faktor penentu.

“Indonesia punya banyak keunggulan—stabilitas nasional, sumber daya alam yang melimpah, dan SDM yang kompeten. Tantangannya adalah menciptakan lingkungan usaha yang benar-benar kompetitif,” katanya.

IPA, lanjut Ronald, terus mendorong percepatan revisi Undang-Undang Migas agar lebih adaptif terhadap dinamika industri global dan memberikan kepastian hukum bagi investor.

Sementara itu, Chairperson IPA Convex 2026, Teresita Listyani, menyebut ajang IPA Convex ke-50 bukan hanya perayaan ulang tahun, melainkan momentum untuk menentukan arah masa depan industri energi Indonesia.

Mengusung tema “50 Years of Energy Partnership: Shaping the Next Era for Advancing Growth”, IPA Convex 2026 akan menjadi wadah dialog kebijakan, pertukaran ide, serta kolaborasi lintas sektor.

“Refleksi tanpa aksi hanya akan jadi nostalgia. IPA Convex kami rancang untuk mendorong solusi nyata—mulai dari investasi, teknologi, sampai transisi energi,” tegas Teresita.

Ia menambahkan, partisipasi dalam IPA Convex terus meningkat setiap tahun, baik dari jumlah delegasi, negara peserta, exhibitor, hingga jurnalis.

Melalui kegiatan media visit ini, IPA juga menegaskan pentingnya peran media sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang berimbang dan konstruktif kepada publik.

IPA berharap, rangkaian kegiatan menuju IPA Convex ke-50 dapat memperkuat pemahaman bahwa industri hulu migas masih memegang peran penting dalam menopang ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan nasional—bahkan di tengah arus besar transisi energi global.