ITPLN Bimbing Siswa SMAN 5 Surabaya Rekayasa Energi Terbarukan dari PLTS hingga WTE

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Surabaya, ruangenergi.com — Institut Teknologi PLN (ITPLN) bersama PLN melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) resmi menggelar Program Rekayasa Teknologi Energi Terbarukan untuk sejumlah sekolah terpilih di Indonesia. SMAN 5 Surabaya menjadi sekolah pertama yang ditunjuk sebagai lokasi pelaksanaan program tahun 2026.

Program ini akan berlangsung selama dua bulan dengan fokus pada pendampingan siswa dan guru dalam membangun proyek-proyek energi terbarukan skala kecil, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Usaha ITPLN, Dr. Ir. M. Ahsin Sidqi, M.M., IPU., ASEAN Eng., QRGP, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar edukasi, tetapi pembentukan kesadaran iklim sejak dini.

“Selama dua bulan ke depan, kami akan mendampingi adik-adik dan guru untuk membuat proyek-proyek kecil, termasuk bagaimana membangun PLTS. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal masa depan bumi,” ujar Ahsin di SMAN 5 Surabaya, Jum’at, 23 Januari 2026.

Ia menekankan bahwa krisis iklim global menjadi latar utama program ini. Menurutnya, pemanasan global, banjir, hingga munculnya penyakit baru merupakan dampak nyata penggunaan energi fosil secara masif.

“Bumi makin panas, banjir makin sering, penyakit makin aneh. Itu akibat perubahan iklim karena energi fosil. Generasi muda harus disiapkan dengan teknologi energi bersih,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Ahsin juga mengajak lulusan SMAN 5 Surabaya untuk bergabung menjadi mahasiswa ITPLN agar bisa turut aktif mewujudkan energi bersih di tanah air. Terlebih, ITPLN akan membuka cabang atau program studi dibluar kampus utama (PSDKU) di Jawa Timur yang akan memulai perkuliahan tahun ini di PLN Udiklat Pandaan.

Direktur Training Center ITPLN, Suharto memastikan, program ini fokus pada penerapan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy (WTE).

Pelatihan tersebut dirancang tidak hanya secara teori, tetapi juga praktik langsung menggunakan peralatan yang disiapkan oleh ITPLN.

“Yang diajarkan ada dua, yaitu waste to energy dan PLTS. Untuk PLTS, peserta akan diajari sistemnya, cara mengoperasikan, mengecek, hingga memperbaikinya,” kata Suharto.

Menurut Suharto, pelatihan PLTS mencakup simulasi pemasangan panel surya yang dapat diaplikasikan di lingkungan sekolah maupun rumah tinggal. ITPLN juga akan menyerahkan peralatan pendukung agar dapat digunakan dalam proses pembelajaran lanjutan.

“Peralatannya akan kami bawa dan diserahkan ke sekolah. Jadi pada kelas berikutnya, siswa bisa langsung menggunakan peralatan yang diberikan,” tegasnya.

Selain PLTS, ITPLN juga mengajarkan konsep waste to energy yang meliputi pengelolaan sampah, proses pengolahan, hingga pemanfaatannya sebagai sumber energi terbarukan.

“Di sekolah, siswa diajarkan bagaimana mengolah sampah, prosesnya seperti apa, dan hasil apa yang bisa dimanfaatkan. Ini bukan hanya membantu energi terbarukan, tetapi juga pengurangan sampah,” ucap Suharto.

Ia berharap program tersebut dapat meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap energi bersih dan mendorong penerapannya di lingkungan sekitar.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMAN 5 Surabaya, Sukirin Wikanto, S.Pd., M.Pd, menyambut positif kolaborasi tersebut. Ia menyebut sekolahnya sebenarnya telah memiliki fasilitas PLTS, namun belum dimanfaatkan secara optimal.

“Di area parkir utara sebenarnya sudah ada atap dengan PLTS. Tapi efektivitas dan kemanfaatannya belum pernah dikaji secara serius. Dengan pendampingan dari ITPLN dan praktisi PLN, ini jadi momentum pembelajaran nyata bagi siswa dan guru,” kata Sukirin.

Menurutnya, program ini bukan hanya soal infrastruktur energi, tetapi juga membuka wawasan karier bagi siswa.

“Anak-anak yang suka teknik akan mendapatkan ilmu dasar tentang PLTS, tentang dunia kelistrikan, dan peluang kerja di sektor energi. Ini bisa jadi bagian dari penemuan passion mereka,” tegasnya.

Sukirin berharap kerja sama ini tidak berhenti pada program dua bulan, tetapi berlanjut sebagai kemitraan jangka panjang.

“Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. PLTS yang ada akan dikaji ulang agar manfaatnya benar-benar dirasakan sekolah. Semoga anak-anak terinspirasi dan punya masa depan di sektor energi,” pungkasnya.

Program ini menjadi bagian dari upaya strategis ITPLN dan PLN dalam membangun literasi energi terbarukan sejak bangku SMA, sekaligus menyiapkan generasi muda sebagai generasi transisi energi nasional menuju masa depan Net Zero Emission