Jakarta, ruangenergi.com – Institut Teknologi PLN (ITPLN) terus menggali peran penting teknologi geospasial dalam menyiapkan masa depan energi bersih di tanah air. Hal ini tercermin dalam Geography Seminar Series 2nd yang mengangkat tema “Dari Data ke Daya: Optimalisasi Energi melalui Teknologi Geospasial” di kampus ITPLN, Selasa, 7 April 2026.
Rektor ITPLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, M.K., MT., IPU., ASEAN Eng., menegaskan pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendorong efisiensi dan keberlanjutan sektor energi nasional. Saat membuka acara itu, dia menilai teknologi geospasial sangat relevan dengan tantangan sektor energi saat ini, yang menuntut efisiensi, akurasi, serta keberlanjutan.
“Teknologi geospasial kini memegang peranan penting dalam pengelolaan energi. Melalui integrasi berbasis lokasi, kita dapat mengidentifikasi potensi energi, termasuk energi baru terbarukan, melakukan perencanaan distribusi yang lebih tepat, serta memantau infrastruktur secara real-time,” ujar Iwa di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.
Ia menjelaskan, pendekatan geospasial tidak hanya meningkatkan akurasi pengambilan keputusan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan. Menurutnya, hal ini menjadi kunci dalam mendukung transformasi energi di Indonesia.
Sebagai bagian dari ekosistem PLN, ITPLN, kata dia, memiliki tanggung jawab dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang tersebut. Ia pun mengapresiasi Program Studi Geografi yang terus menghadirkan ruang diskusi akademik yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Kegiatan seperti ini penting agar mahasiswa memahami relevansi langsung keilmuan mereka terhadap kebutuhan sektor energi nasional,” katanya.
Seminar ini menghadirkan sejumlah praktisi dan akademisi yang kompeten di bidang energi dan geospasial. General Manager PLN UIT JBB, Himmel Sihombing bersama peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bono Pranoto.
Selain itu, Engineer PT GPS Lands Indosolutions, Sondang Riski Wanti Sihombing, serta akademisi ITPLN, Widya Soviana, turut melengkapi perspektif diskusi dari sisi industri dan pendidikan. Kegiatan ini akan dipandu oleh dosen geografi ITPLN, Yetti Anita Sari.
General Manager PLN UIT JBB, Himmel Sihombing mengakui pentingnya pemanfaatan teknologi geospasial dalam mendukung proses bisnis ketenagalistrikan yang semakin kompleks.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, dan konsumsi listrik mendorong peningkatan aset kelistrikan secara signifikan dari waktu ke waktu. Kondisi ini membuat pengelolaan aset menjadi semakin rumit dan membutuhkan sistem yang presisi.
“Semakin banyak dan kompleks aset kelistrikan, maka kita harus tahu secara pasti lokasi setiap aset tersebut. Di sinilah geospasial berperan sangat penting,” kata Himmel.
Ia menjelaskan, teknologi geospasial memungkinkan pemetaan lokasi aset secara akurat, mulai dari gardu induk, jaringan transmisi, hingga pembangkit listrik. Hal ini menjadi krusial dalam memastikan keandalan sistem kelistrikan nasional.
Tak hanya itu, Himmel juga mengaitkan peran geospasial dengan agenda besar transisi energi menuju target net zero emission Indonesia pada 2060. Menurutnya, pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil, membutuhkan dukungan data spasial yang presisi.
“Sumber energi terbarukan tersebar di banyak lokasi, termasuk di remote area. Kita harus mengetahui posisi dan potensinya secara akurat, dan geospasial menjadi kunci,” katanya.

