Jejak 2025: Ketika Teknologi dan Kerja Keras Membangunkan Cadangan Tidur di Perut Bumi Pertiwi

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto, pada Jumat (2/1/2026) resmi merilis video kilas balik bertajuk “Rekap Capaian SKK Migas Tahun 2025”.

Dalam tayangan visual yang menarik tersebut, diterima ruangenergi.com, Djoko memperlihatkan bahwa tahun 2025 menjadi periode monumental bagi sektor hulu migas Indonesia. Di bawah komando SKK Migas, industri ini tidak hanya berhasil merealisasikan sederet proyek raksasa yang sempat tertunda, tetapi juga mencatat lonjakan investasi yang signifikan, menandai bangkitnya kembali gairah eksplorasi di tanah air.

Berdasarkan data rekapitulasi yang dipaparkan dalam video tersebut, setidaknya terdapat tiga narasi besar yang mewarnai perjalanan hulu migas Indonesia sepanjang 2025: eksekusi proyek strategis nasional, penerapan teknologi masif di Blok Rokan, dan pulihnya iklim investasi.

Panen Proyek Strategis

Video tersebut menyoroti perhatian khusus Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terhadap ketahanan energi. Hal ini terekam jelas pada momen Mei 2025, ketika Presiden meresmikan produksi perdana dua lapangan minyak besar, yakni Lapangan Forel dan Terubuk. Momentum ini berlanjut di bulan Juni dengan peresmian tambahan produksi dari proyek Banyu Urip Infill Clastic (BUIC) yang menyumbang tambahan 30.000 barel minyak per hari (BOPD), atau berkontribusi lebih dari 25% terhadap produksi nasional.

Tak hanya di sisi minyak, sektor gas juga berlari kencang. Djoko Siswanto melalui laporannya menegaskan kemajuan signifikan Proyek Abadi Masela yang resmi memulai tahap Front End Engineering Design (FEED) pada September 2025. Selain itu, dimulainya fabrikasi untuk proyek Tangguh UCC dan peresmian fasilitas Floating LNG (FLNG) raksasa pertama di Indonesia untuk Genting Oil di Teluk Bintuni menjadi bukti nyata geliat infrastruktur gas nasional.

Dalam video rekapitulasi tersebut, Wilayah Kerja (WK) Rokan digambarkan terus menjadi tulang punggung produksi nasional dengan pendekatan teknologi tinggi. Sepanjang 2025, SKK Migas dan Pertamina Hulu Rokan (PHR) gencar melakukan eksplorasi Migas Non-Konvensional (MNK), pengoperasian New Pematang Substation, hingga peresmian proyek Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Minas Area A pada akhir Desember.

Salah satu capaian teknis terbaik yang turut dipamerkan adalah keberhasilan pengeboran Sumur Ampuh yang menembus produksi 2.098 BOPD tanpa kandungan air, sebuah capaian yang mendongkrak optimisme lifting nasional.

Iklim Investasi Membaik

Capaian lain yang digarisbawahi Djoko Siswanto adalah pulihnya kepercayaan investor global. Data S&P Global mencatat skor investor attractiveness Indonesia naik menjadi 5,35. Hal ini terefleksi dari realisasi investasi hulu migas pada pertengahan tahun yang menembus US$ 7,19 miliar, melonjak 28,6% dibanding periode sebelumnya.

Masuknya investasi ini juga dibarengi dengan komitmen keberlanjutan. Indonesia mulai memposisikan diri sebagai pionir penyimpanan karbon (CCS/CCUS) di ASEAN, serta sukses mendaratkan kesepakatan strategis pemanfaatan Gas Andaman antara Mubadala Energy dan PLN untuk ketahanan energi wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Menutup laporannya, Djoko Siswanto menekankan bahwa SKK Migas tidak hanya fokus pada fisik, namun juga transformasi digital melalui peluncuran Data Platform terintegrasi dan penerapan kecerdasan buatan (AI) yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi asal Abu Dhabi, AIQ. Rangkaian capaian 2025 ini menjadi fondasi kokoh bagi Indonesia menuju target produksi 1 juta barel minyak dan 12 BSCFD gas.