Jejak Hijau di Bojonegoro: Merawat Mimpi dan Alam dari Bangku Sekolah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bojonegoro, Jawa Tengah, ruangenergi.com-Pagi itu, 19 Desember 2025, suasana di SMPN 1 Ngasem, Bojonegoro, terasa lebih hidup dari biasanya. Di tengah riuh rendah ratusan siswa, pandangan mata tak hanya tertuju pada papan tulis, melainkan pada sesuatu yang baru di atap sekolah dan sudut-sudut taman: teknologi masa depan yang kini hadir di depan mata.

Hari itu bukan sekadar seremonial pemberian bantuan. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui PEPC Zona 12 hadir membawa misi yang lebih dalam ke wilayah operasinya di sekitar Lapangan Gas Jambaran Tiung Biru (JTB). Mereka datang untuk mengubah cara pandang generasi muda terhadap bumi yang mereka pijak.

Di tengah antusiasme para siswa, Corporate Secretary PHE, Hermansyah Y. Nasroen, berdiri bukan sekadar sebagai pejabat korporasi, melainkan sebagai mentor yang menitipkan pesan penting.

“Sekolah bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga laboratorium hidup untuk mencetak generasi masa depan yang peduli terhadap keberlanjutan bumi,” ujarnya dengan nada optimis.

Bagi Hermansyah, literasi lingkungan adalah fondasi. Ia menegaskan bahwa PHE ingin mentransformasi sekolah Adiwiyata ini menjadi ruang praktik nyata. Bukan lagi sekadar menghafal definisi energi di dalam kelas, para siswa kini diajak melihat langsung bagaimana sinar matahari diubah menjadi listrik yang menyalakan komputer mereka.

Komitmen itu mewujud dalam fasilitas canggih yang kini menjadi bagian dari keseharian sekolah. Sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp lengkap dengan baterai lithium 5 kWh kini berdiri gagah, mengurangi ketergantungan sekolah pada listrik konvensional. Tak hanya itu, di Hutan Sekolah yang asri, air kini menyembur otomatis lewat sistem sprinkle pintar, merawat tanaman tanpa membuang tenaga berlebih. Semua energi dan operasional itu bahkan bisa dipantau secara real-time lewat aplikasi.

Fasilitas ini adalah “guru diam” yang mengajarkan siswa bahwa teknologi ramah lingkungan bukan impian jauh, melainkan kenyataan yang bisa mereka kelola.

“Kami ingin sekolah menjadi inkubator yang efektif. Wawasan ekologis harus diterjemahkan menjadi inovasi konkret, bukan sekadar wacana,” tambah Hermansyah.

Kehangatan acara kian terasa saat para “Perwira”—sebutan bagi pekerja Pertamina—melepas atribut formal mereka dan berbaur menjadi relawan. Mereka hadir berbagi ilmu tentang industri hulu migas dan energi baru terbarukan (EBT) dengan bahasa yang mudah dicerna.

Gelak tawa dan rasa ingin tahu pecah saat sesi games interaktif dan Lomba Inovasi digelar. Delapan kelompok siswa berlomba memamerkan kreativitas mereka, menyulap barang bekas menjadi karya bernilai guna dengan tema “Keberlanjutan”. Di sini, sampah tak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sumber daya yang menunggu sentuhan inovasi.

Lewat program ini, PHE dan PEPC Zona 12 tidak hanya meninggalkan panel surya atau alat penyiram tanaman. Mereka meninggalkan jejak inspirasi. Mereka sedang membangun ekosistem pendidikan di mana siswa SMPN 1 Ngasem tidak hanya tumbuh menjadi cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap lingkungan.

Di Ngasem, transisi energi nasional tidak dimulai dari ruang rapat mewah, melainkan dimulai dari rasa ingin tahu seorang siswa yang kini sadar: masa depan bumi ada di tangan mereka.