Jodoh yang Pas: Kilang Canggih dan Minyak Premium Ada di RDMP Balikpapan, Mantap!

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Sejarah baru industri minyak dan gas Indonesia sedang ditulis di Kalimantan Timur. PT Pertamina (Persero) mengambil langkah agresif dengan menggelontorkan investasi fantastis senilai Rp123 triliun untuk proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan.

Ini bukan sekadar renovasi biasa. Ini adalah proyek modernisasi kilang terbesar sepanjang sejarah industri migas tanah air. Dimulai sejak 2019, proyek strategis nasional ini disiapkan untuk mendongkrak kapasitas pengolahan dari 260.000 menjadi 360.000 barel per hari.

Namun, angka triliunan rupiah itu bukan hanya soal kapasitas. Investasi ini adalah kunci pembuka pintu bagi masuknya minyak mentah premium dalam negeri, yakni Banyu Urip Crude Oil (BUCO) dari Blok Cepu, untuk diolah secara maksimal di negeri sendiri.

Apa yang membuat Kilang Balikpapan kini begitu istimewa hingga mampu mengolah BUCO menjadi produk berstandar dunia? Jawabannya ada pada “jantung” baru kilang ini: fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex.

Unit raksasa ini memungkinkan residu minyak yang sebelumnya bernilai rendah, kini bisa “disulap” menjadi BBM dan petrokimia bernilai tinggi. Teknologi ini sangat krusial. Berkat RFCC dan modernisasi yang mencakup 39 unit fasilitas baru, kualitas produk Kilang Balikpapan melonjak drastis.

Dari yang sebelumnya hanya standar Euro 2, kini produk yang dihasilkan setara Euro 5. Penurunan kadar sulfurnya pun tak main-main: dari 2.500 ppm, terjun bebas menjadi hanya 10 ppm.

Di sinilah peran BUCO menjadi vital. BUCO adalah singkatan dari Banyu Urip Crude Oil, minyak mentah yang diproduksi ExxonMobil dari Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Jawa Timur. Dikenal sebagai minyak berkualitas tinggi dengan kandungan sulfur rendah, BUCO adalah “jodoh” yang pas untuk teknologi baru Kilang Balikpapan.

Sebelumnya, BUCO sering dicampur dengan jenis minyak lain (seperti SLC) di kilang lama. Namun, dengan Nelson Complexity Index (NCI) kilang yang melesat dari 3,7 menjadi 8,0, Balikpapan kini memiliki fleksibilitas tinggi untuk memproses BUCO menjadi produk jadi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Dampak dari investasi Rp123 triliun ini juga menyentuh dapur masyarakat. Selain bensin dan solar ramah lingkungan, wajah baru Kilang Balikpapan kini mampu memproduksi LPG hingga 336.000 ton per tahun.

Tak hanya itu, kilang ini juga mulai menghasilkan produk petrokimia seperti propylene—produk yang sebelumnya belum pernah dihasilkan di sini. Pertamina menargetkan tambahan produksi LPG ini dapat menekan keran impor gas rumah tangga secara bertahap.

Dengan yield produk bernilai tinggi yang naik ke angka 91,8%, RDMP Balikpapan kini berdiri tegak sebagai pilar ketahanan energi nasional. Sebuah bukti nyata bahwa investasi besar, teknologi tinggi, dan sumber daya alam domestik (BUCO) dapat bersinergi untuk kemandirian bangsa.