Kabar Baik dari Bumi Papua: Sumur Baru Salawati Mengalirkan Harapan Lifting Nasional

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Papua Barat, Papua, ruangenergi.com— Kabar menggembirakan datang dari timur Indonesia. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan langsung kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahwa pengeboran sumur pengembangan baru di Lapangan Salawati berhasil menemukan minyak dengan hasil awal yang menjanjikan.

“Alhamdulilah PT. Pertamina EP Asset 4; Region 4 Zona 14 Papua Barat telah melakukan tajak/ mulai pengeboran sumur Pengembangan pada Cluster E Field Salawati yaitu sumur pengembangan SLW-E006 pada tanggal 31 Desember 2025.Pengeboran sumur dilakukan hingga kedalaman 2,165 mMD (meter Measure Dept) untuk mencapai lapisan Kais Carbonate dan kemudian dilakukan pekerjaan komplesi dengan hasil uji produksi sementara mencapai 350 BOPD,” kata Djoko Siswanto dalam laporannya, dan diceritakan kepada ruangenergi.com, Minggu (22/02/2026), di Jakarta.

Sumur bernama SLW-E006 yang dikerjakan oleh Pertamina EP Asset 4 Region 4 Zona 14 Papua Barat resmi menembus lapisan target Kais Carbonate pada kedalaman 2.165 meter MD. Setelah proses komplesi, uji produksi sementara menunjukkan angka sekitar 350 barel minyak per hari (BOPD)—sebuah capaian yang dinilai strategis bagi peningkatan produksi nasional.

Pengeboran sumur ini dimulai pada 31 Desember 2025 dan dinyatakan berhasil menemukan minyak pada 16 Februari 2026, dengan total waktu operasi 43 hari sejak pemboran hingga uji produksi. Secara teknis, sumur ini dibor secara directional (J-type) menggunakan Rig PDSI #11.2 berkapasitas 1000 HP, mencapai kedalaman akhir 2.165 mMD / 2.101 mTVD.

SLW-E006 menjadi sumur kedua yang sukses dibor dari total empat sumur rangkaian program drilling di Lapangan Salawati. Keberhasilan ini memperkuat optimisme operator untuk mengejar target produksi berikutnya.

Inovasi teknologi juga menjadi kunci. Tim pengeboran menerapkan metode Casing While Drilling (CWD) pada trayek 17-1/2 inci di level casing 13-3/8 inci. Teknik ini memungkinkan pemasangan casing sambil pengeboran berlangsung, sehingga meningkatkan stabilitas lubang bor sekaligus menekan risiko gangguan operasi.

Selain itu, strategi penguatan lubang sumur (wellbore strengthening) di zona formasi rapuh pada trayek 12-1/4 inci terbukti efektif mencegah kendala besar yang berpotensi memperlambat operasi.

Dari sisi finansial, proyek ini juga menunjukkan disiplin anggaran. Biaya pengeboran tercatat sekitar USD 9,77 juta, setara 94% dari AFE (Authorization for Expenditure) yang disetujui. Artinya, proyek berjalan di bawah batas anggaran tanpa mengorbankan hasil teknis.

Dorong Target Produksi Nasional

Keberhasilan sumur ini diharapkan menjadi dorongan tambahan bagi pencapaian target lifting minyak nasional APBN 2026 sebesar 610 ribu barel per hari. SKK Migas dan Pertamina masih menaruh harapan pada dua sumur berikutnya dalam rangkaian program yang sama agar dapat menghasilkan produksi setara bahkan lebih tinggi.

Di tengah tantangan global sektor energi, kabar dari Salawati ini menjadi sinyal positif bahwa potensi migas Indonesia—khususnya di kawasan timur—masih menjanjikan. Optimisme pun menguat di kalangan pelaku industri: produksi naik, target terkejar, dan semangat tetap menyala.

Lifting naik? Bisa. Bisa. Bisa.