Kabar Baik dari Kutai: Sumur NKL-1183 Pertamina EP Mengalirkan 502 Barel Minyak per Hari

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kutai Kartanegara, Kaltim, ruangenergi.com– Sektor hulu migas kembali mendapat suntikan optimisme. PT Pertamina EP berhasil mencatatkan hasil menggembirakan dari pengeboran sumur pengembangan NKL-1183 yang berlokasi di Kutai Lama, Kutai Kartanegara, sekitar 35 kilometer dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto melaporkan, sumur tersebut telah dilakukan tajak pada 14 Desember 2025, dan per 8 Januari 2025 memasuki tahap uji produksi dengan hasil sementara mencapai 502 barel minyak per hari (BOPD). Uji produksi dilakukan menggunakan bean 7 mm dengan tekanan kepala sumur (THP) 225 psi.

“Alhamdulillah, ini menjadi kabar baik bagi upaya menjaga ketahanan produksi nasional,” ujar Djoko dalam laporannya kepada Menteri dan Wakil Menteri ESDM, Sabtu ini.

Sumur NKL-1183 menargetkan lapisan batupasir B08 pada kedalaman relatif dangkal, yakni 650–670 meter measured depth (mMD). Meski demikian, pengeboran dilakukan dengan metode directional drilling (S-Type) hingga mencapai kedalaman akhir 1.545 mMD, menggunakan rig PDSI #22.2/OW700-M berkapasitas 700 HP.

Seluruh rangkaian pengeboran hingga uji produksi berhasil diselesaikan dalam waktu 26 hari, dan rig resmi direlease pada 9 Januari—sebuah capaian yang mencerminkan efisiensi operasi di lapangan.

Dari sisi biaya, realisasi pengeluaran tercatat sebesar USD 3,18 juta, atau sekitar 76,59 persen dari AFE yang telah disetujui SKK Migas, menandakan pengendalian biaya yang solid di tengah tantangan industri.

Ke depan, Pertamina EP akan melanjutkan uji produksi untuk menentukan laju alir optimum, guna menjaga keberlanjutan dan kualitas reservoir. Sumur ini diharapkan dapat menjadi kontributor penting produksi tahun 2026, khususnya untuk mengganti kehilangan produksi minyak akibat perbaikan pipa yang sempat terputus di Sumatra.

“Mohon doa agar operasional berjalan lancar dan sumur ini memberi kontribusi nyata bagi produksi nasional,” tutup Djoko Siswanto, bercerita kepada ruangenergi.com.

Kabar dari Kutai ini menegaskan bahwa di tengah tantangan alam dan infrastruktur, upaya peningkatan produksi migas nasional terus bergerak—perlahan namun pasti.