Karya Anak Bangsa di Perut Bumi: Surfaktan Pertamina Perpanjang Usia Sang Raksasa Tua

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Pekanbaru, Riau, ruangenergi.com-Di dalam laboratorium yang hening, di antara deretan tabung reaksi dan aroma bahan kimia yang menyengat, Ester Tio Minar E. Silalahi dan timnya berpacu dengan waktu. Di pundak mereka, ada beban berat yang tak terlihat: nasib sang “raksasa tua” bernama Lapangan Minas.

Minas bukan sekadar lapangan minyak. Sejak 1952, ia adalah tulang punggung energi republik ini. Namun, seperti halnya manusia, lapangan yang menyimpan cadangan awal 8,7 miliar barel ini pun menua. Minyaknya masih ada, tersembunyi di celah-celah bebatuan, namun makin sulit untuk dibujuk keluar.

Di sinilah peran Ester, Senior Analyst Laboratory PHR, bersama delapan rekannya. Misi mereka terdengar sederhana namun pelaksanaannya bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami: menemukan formula surfaktan—cairan kimia khusus—yang paling sempurna untuk “mencuci” sisa minyak di perut bumi Rokan.

Perjalanan menuju penemuan ini bukanlah lintasan lurus. “Kami menerima ratusan sampel surfaktan. Tantangan terbesarnya adalah menemukan kombinasi yang cocok dan optimal,” kenang Ester.

Selama hampir dua tahun, tim laboratorium Pertamina Hulu Rokan (PHR) seolah menjadi “koki” yang tak pernah tidur. Mereka melakukan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium yang rumit. Ratusan formula diuji, gagal, diulang, dievaluasi, dan diuji lagi. Diskusi alot terjadi hampir setiap hari.

Agus Masduki, Manager EOR Petroleum Engineering PHR Regional 1 – Sumatra, mengakui betapa terjalnya jalan yang harus ditempuh. “Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya,” ujarnya.

Tujuannya bukan sekadar teknis, melainkan ideologis. Pertamina ingin memutus ketergantungan pada pemasok asing. Melalui sinergi “Perwira” terbaik dari PHR, Technology Innovation and Implementation (TI&I) Persero, hingga anak usaha seperti PT Pertamina Lubricants dan Elnusa Petrofin, mereka bertekad memproduksi “ramuan” ini di dalam negeri.

Kerja keras yang memeras keringat dan otak itu akhirnya berbuah manis. Setelah sukses dalam uji coba lapangan di Balam South pada Juli 2025, sebuah tonggak sejarah baru ditancapkan pada Selasa, 23 Desember 2025.

Hari itu, di Rumbai, penerapan teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) Tahap I di Area A Lapangan Minas resmi diluncurkan. Ini adalah bukti bahwa inovasi anak bangsa mampu menjawab tantangan lapangan mature.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, tak bisa menyembunyikan kebanggaannya. “Yang patut kita banggakan bersama, surfaktan sebagai komponen utama dalam teknologi ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina,” tegasnya. Ia menekankan bahwa teknologi ini siap memperpanjang usia lapangan tua dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Hal senada diungkapkan Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto. Ia mengingatkan bahwa menjaga “nyawa” Minas hanya bisa dilakukan lewat inovasi. “Kita bersyukur hari ini dapat meresmikan penerapan Chemical EOR. Ini langkah nyata menjaga keberlanjutan produksi,” ujarnya.

Kisah di balik peluncuran CEOR di Minas mengajarkan satu hal penting: industri hulu migas bukan melulu soal mesin raksasa dan pipa besi. Di baliknya, ada ketekunan manusia, ada kolaborasi lintas disiplin, dan ada daya juang peneliti seperti Ester dan timnya yang tak menyerah pada ratusan kegagalan.

Kini, dengan formula surfaktan karya anak bangsa yang telah mengalir ke dalam perut bumi Rokan, sang raksasa tua Minas kembali mendapatkan napas baru untuk terus menopang energi negeri.