Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Langkah agresif dalam transisi energi kembali ditunjukkan oleh Subholding Pertamina, Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Kali ini, perusahaan pelat merah tersebut resmi menggandeng perusahaan teknologi energi asal China, GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd., untuk menggarap berbagai proyek strategis di Indonesia.
Kolaborasi ini dinilai sebagai manuver penting untuk mempercepat pengembangan ekosistem energi bersih di Tanah Air, mulai dari pengembangan energi baru terbarukan (EBT) hingga teknologi pengolahan sampah menjadi listrik.
CEO Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa kemitraan ini bukan sekadar kerja sama bisnis biasa, melainkan upaya strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus menurunkan emisi karbon.
“Kolaborasi dengan GCL merupakan langkah strategis Pertamina NRE untuk mempercepat pengembangan energi bersih di Indonesia,” ujar John Anis dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, dikutip dari siaran pers yang diterima ruangenergi.com.
John menambahkan, kerja sama ini membuka peluang lebar untuk pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), pembangkit berbasis gas, serta inovasi EBT lainnya. Kuncinya terletak pada penggabungan dua kekuatan besar.
“Kami melihat potensi besar untuk mengombinasikan pengalaman global GCL dengan kapabilitas dan pemahaman lokal Pertamina dalam menghadirkan solusi energi yang berkelanjutan dan kompetitif,” jelasnya.
Indonesia Jadi Pasar Strategis
Di sisi lain, Chairman of the Board GCL Intelligent Energy, Fei Zhi, menyambut hangat sinergi ini. Menurutnya, Indonesia memegang peran vital dalam peta energi hijau dunia.
“Kami melihat Indonesia sebagai salah satu pasar strategis dalam pengembangan energi bersih global. GCL berharap dapat memanfaatkan momentum percepatan transisi energi di Indonesia untuk membangun kerja sama yang saling menguntungkan,” ungkap Fei Zhi.
Fei Zhi menyoroti beberapa sektor spesifik yang akan menjadi fokus, antara lain sektor waste-to-energy (tenaga sampah), integrasi fotovoltaik (PV) dan penyimpanan energi, hingga teknologi PVT.
Keseriusan kerja sama ini ditandai tidak hanya lewat tanda tangan di atas kertas. Usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU), delegasi Pertamina NRE langsung terbang ke Suzhou, China, untuk meninjau fasilitas waste-to-energy milik GCL.
Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung penerapan teknologi, sistem pengelolaan lingkungan, serta praktik terbaik operasional yang kelak bisa diadopsi di Indonesia.
John Anis optimis, langkah ini akan menjadi fondasi kuat bagi Pertamina untuk terus menjadi lokomotif transisi energi nasional.
“Pertamina NRE optimis kerja sama ini akan menjadi fondasi penting dalam mendorong inovasi teknologi… demi mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060,” pungkasnya.












