Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini menyorot satu titik paling sensitif dalam sistem energi dunia: Selat Hormuz.
Jika jalur sempit ini terganggu, dampaknya tidak hanya terasa di kawasan Teluk, tetapi juga langsung mengguncang harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.
Assisten Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satria Antoni, menilai Selat Hormuz merupakan nadi energi dunia yang tidak tergantikan.
Setiap hari lebih dari 20 juta barel minyak mentah, atau sekitar seperlima konsumsi minyak global, melewati jalur tersebut. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat langsung memicu lonjakan harga energi dunia.
“Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Ia adalah nadi energi dunia. Setiap kapal tanker yang melintas membawa stabilitas ekonomi global,” tulis Satria dalam analisisnya.
Para analis memperingatkan, jika konflik meningkat dan pasokan energi terganggu, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$120 bahkan US$150 per barel.
Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya sistem energi global terhadap gangguan geopolitik.
Pemerhati geostrategi energi Sampe Purba menjelaskan bahwa Selat Hormuz merupakan bagian dari jaringan jalur sempit yang disebut energy chokepoints—titik kritis yang mengendalikan perdagangan energi dunia.
Selain Hormuz, jalur vital lain meliputi Bab el-Mandeb, Terusan Suez, Selat Malaka, Gibraltar, Bosphorus, dan Terusan Panama.
Dalam sistem energi global yang masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil, stabilitas jalur-jalur ini menjadi faktor penentu kestabilan harga energi dunia.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA), sekitar 80–85 persen konsumsi energi primer dunia masih berasal dari minyak, gas, dan batubara.
Artinya, dalam beberapa dekade ke depan, energi fosil masih akan menjadi tulang punggung sistem energi global.
“Gangguan kecil saja di chokepoints seperti Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak global,” kata Sampe Purba.
Lonjakan harga energi sebenarnya bukan ancaman baru bagi negara-negara maju. Guru besar energi Prof. Andy N. Someng menjelaskan bahwa negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) sejak krisis minyak 1973 diwajibkan memiliki cadangan energi minimal setara 90 hari impor minyak.
Cadangan energi kolektif negara industri saat ini sangat besar, antara lain: sekitar 1,5 miliar barel cadangan minyak strategis pemerintah, 2,6 miliar barel cadangan minyak komersial, hingga 1 miliar barel cadangan produk BBM
Jika digabungkan, total cadangan energi tersebut setara sekitar 5–6 miliar barel oil equivalent.
Cadangan raksasa ini sering disebut sebagai “tangki darurat energi dunia” yang hanya dibuka ketika krisis global terjadi.
Di tengah sistem keamanan energi global itu, posisi Indonesia menjadi sorotan.
Indonesia bukan anggota penuh IEA, melainkan Association Country sejak 2015, sehingga tidak memiliki kewajiban membangun cadangan energi minimal 90 hari seperti negara industri.
Cadangan energi nasional saat ini relatif terbatas: BBM sekitar 20–25 hari konsumsi. Minyak mentah sekitar 20 hari. LPG sekitar 15–20 hari
Di sisi lain, Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi.
Indonesia masih mengimpor sekitar 300–400 ribu barel minyak mentah per hari, sekitar 500 ribu barel BBM, serta lebih dari 70 persen kebutuhan LPG nasional.
Kondisi ini membuat Indonesia sangat sensitif terhadap lonjakan harga minyak global.
Jika harga minyak dunia menembus US$120 per barel, tekanan terhadap anggaran negara, inflasi, dan nilai tukar rupiah berpotensi meningkat tajam.
Bagi banyak analis, krisis geopolitik di Timur Tengah seharusnya menjadi peringatan keras bagi Indonesia.
Ketergantungan pada impor energi membuat ekonomi nasional sangat rentan terhadap gejolak global.
Karena itu, penguatan ketahanan energi nasional menjadi agenda strategis yang tidak bisa ditunda.
Langkah-langkah yang sering disorot antara lain: meningkatkan produksi energi domestik, membangun cadangan energi strategismemperkuat infrastruktur penyimpanan energi, serta memperkuat diplomasi energi internasional.
Dalam dunia yang semakin penuh ketidakpastian geopolitik, energi tidak lagi sekadar komoditas ekonomi.
Energi telah menjadi instrumen kekuatan negara. Dan setiap gejolak di Selat Hormuz selalu mengingatkan satu hal yang sama: ketahanan energi adalah fondasi kedaulatan nasional.

