Blora, Jawa Tengah, ruangenergi.com— Di tengah gejolak energi global, secercah kabar baik datang dari jantung tua industri migas Indonesia. Kilang minyak Cepu—yang berdiri sejak 1896 pada era kolonial Belanda—kini kembali menjadi sorotan sebagai salah satu tumpuan penguatan ketahanan energi nasional.
Dalam laporan lapangan yang disampaikan oleh Kepala SKK Migas Djoko Siswanto bersama tim Satgas Sumur Masyarakat (Sumas), kilang bersejarah ini masih beroperasi dan saat ini mengolah sekitar 2.000 barel minyak per hari (BOPD). Angka tersebut diharapkan segera meningkat hingga 3.800 BOPD apabila tambahan pasokan minyak mentah dapat dipenuhi.
Harapan peningkatan produksi itu bukan tanpa dasar. Pasokan tambahan crude oil justru tersedia dari sumber yang selama ini sering dipandang sebelah mata: sumur minyak masyarakat di Jawa Tengah.
Di Desa Pluntungan, Kabupaten Blora, tim menyaksikan langsung aktivitas produksi dari sekitar 1.200 sumur rakyat. Minyak mentah terlihat mengalir deras dari sumur-sumur tersebut—sebuah potensi nyata yang siap dioptimalkan.
Tak hanya itu, langkah administratif juga telah ditempuh. Penandatanganan kerja sama antara koperasi, penambang, dan kepala desa telah dilakukan sebagai bagian dari persyaratan yang diminta oleh Pertamina. Verifikasi lapangan pun telah dilaksanakan untuk memastikan kesiapan produksi.
Selain Blora, potensi tambahan pasokan juga berasal dari Kabupaten Kendal, dengan estimasi produksi mencapai 2.000 BOPD. Minyak dari sumur rakyat ini bahkan telah disiapkan dalam kontainer dan tinggal menunggu proses kontrak serta persetujuan resmi untuk segera dikirim.
Kilang Cepu sendiri dinilai sangat strategis untuk menyerap pasokan tersebut. Meski usianya lebih dari satu abad, fasilitas ini masih mampu mengolah crude oil menjadi BBM yang memenuhi spesifikasi.
Sebagai langkah kehati-hatian, tim juga telah mengambil sampel minyak untuk diuji di laboratorium, memastikan kualitasnya sesuai standar pengolahan.
Di tengah fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian pasokan global, optimalisasi kilang tua ini menjadi langkah taktis. Selain meningkatkan lifting nasional, inisiatif ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada impor crude oil dan BBM.
Dukungan lintas pihak—mulai dari KESDM, SKK Migas, Ditjen Migas, hingga Pertamina dan koperasi daerah—menjadi kunci percepatan realisasi program ini.
“Semua persyaratan telah dilengkapi. Insya Allah dalam waktu dekat minyak dari sumur masyarakat bisa segera mengalir ke Kilang Cepu,” demikian optimisme yang disampaikan dalam laporan tersebut.
Jika seluruh proses berjalan lancar, maka kolaborasi antara negara dan masyarakat ini bukan hanya soal produksi minyak. Ini adalah simbol kebangkitan model energi berbasis gotong royong—di mana sumur rakyat menjadi bagian dari solusi nasional.
Targetnya jelas: lifting naik, impor turun, dan ketahanan energi semakin kuat.
Lifting naik? Bisa! Bisa! Bisa!


