Muara Badak, Kaltim, ruangenergi.com-Bagi Ricky Yusuf Fadilah, langit Muara Badak bukan sekadar atap tempat ia berteduh, melainkan saksi bisu dari mimpi-mimpi besarnya yang sempat terbentur tembok realitas. Tumbuh di wilayah pesisir Kalimantan Timur yang menjadi denyut nadi operasi hulu migas, Ricky—lulusan SMK Syarif Hidayatullah—akrab dengan keterbatasan. Namun, ia tak membiarkan keterbatasan itu memadamkan nyala harapannya.
Keajaiban itu datang di penghujung tahun, saat PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) melalui program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan (BSBK) 2025 mengumumkan namanya sebagai salah satu dari 15 putra-putri terbaik Kalimantan yang berhak menempuh pendidikan sarjana secara penuh.
Ricky tak kuasa menyembunyikan keterkejutannya saat namanya terpampang di daftar penerima beasiswa. Baginya, beasiswa ini melampaui sekadar angka-angka di atas kertas atau dukungan finansial semata.
“Beasiswa ini adalah bentuk kepercayaan, kesempatan, sekaligus tanggung jawab untuk terus bertumbuh dan memberikan nilai lebih bagi lingkungan,” ujar Ricky dengan mata berbinar.
Ia sadar, statusnya sebagai anak dari keluarga prasejahtera di wilayah operasi PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) bukanlah penghalang, melainkan pemacu semangat. Ia meyakini bahwa langkah kecil yang ia ayunkan hari ini adalah pembuka jalan menuju masa depan yang jauh lebih besar.
Perjalanan Ricky menuju bangku kuliah tidaklah linier. Memiliki latar belakang Program Keahlian Teknik Informatika saat SMK, Ricky berani mengambil tantangan baru dengan memilih Program Studi Teknik Kimia Industri di Politeknik Negeri Samarinda.
Proses seleksinya pun tak mudah. Namun, usaha yang konsisten berbalut doa orang tua berhasil menembus segala rintangan. Baginya, proses seleksi BSBK bukan sekadar ujian akademik, melainkan kawah candradimuka.
“Selain pengalaman baru, saya berkesempatan mengasah public speaking dan memperluas jejaring dengan rekan dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan,” kenangnya. Kini, dengan beasiswa di tangan, ia memancangkan target tinggi: lulus tepat waktu dengan IPK minimal 3,0.
Ricky adalah satu potret dari komitmen PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dalam merawat mimpi generasi muda di “Ring 1” wilayah operasinya. Bersama rekan-rekannya dari Muara Jawa, Samboja, hingga Tarakan dan Murung Pudak, Ricky tidak hanya dibiayai kuliahnya.
Manager Communication, Relations & CID PHI, Dony Indrawan, menegaskan bahwa program ini merangkul aspek yang lebih luas dari sekadar biaya SPP.
“Di BSBK, penerima beasiswa mendapatkan bantuan biaya hidup, penunjang pendidikan, hingga pengembangan kapasitas melalui Aksi Sobat Bumi. Kami ingin menanamkan kepedulian lingkungan, seperti penanaman mangrove dan pengolahan sampah, agar mereka tumbuh menjadi agen perubahan,” jelas Dony.
Dukungan penuh dari anak perusahaan PHI seperti PHM, PHSS, dan PHKT memastikan bahwa energi yang dihasilkan dari perut bumi Kalimantan, kembali lagi untuk menerangi masa depan anak-anaknya.
Kini, Ricky telah memulai babak barunya. Dari Muara Badak, ia membawa ransel berisi buku dan harapan, siap membuktikan bahwa anak pesisir mampu menjadi insinyur andal yang kelak akan membangun bangsanya.












