Korporasi Berperan Penting Mengoptimalkan Pengembangan Kendaraan Listrik Baterai

Jakarta, ruangenergi.com– Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) melalui salah satu pusat studinya, Center for Policy and Public Management (CPPM) meluncurkan Policy Brief edisi bulan Mei 2021 tentang kendaraan listrik atau electric vehicle.

Dalam keterangan media yang diterima ruangenergi.com(18/5), dipaparkan strategi korporasi yang dapat diterapkan oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai holding BUMN baru dalam mengoptimalkan pengembangan kendaraan listrik baterai (BEV) di Indonesia.

Policy Brief ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti CPPM, Dr. Agung Wicaksono dan Benriwan, mengenai kendaraan listrik selama 2 bulan terakhir.

Agung menyatakan, “Policy Brief ini dibuat untuk menjawab kebutuhan saat ini dalam mendukung insentif regulasi dan investasi yang telah dibuat. Ini juga merespons aksi korporasi BUMN pada pertengahan Maret 2021 lalu dengan telah terbentuknya holding IBC yang terdiri dari PT.Asahan Aluminium (MIND ID), anak usahanya PT. Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT. Pertamina (Persero), dan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero).”

Dengan saham masing-masing sebesar 25%, IBC akan berperan mengelola ekosistem industri baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir dengan nilai investasi 238 triliun rupiah.

Pada awal bulan Mei 2021 ini, IBC menandatangani Heads of Agreement (HoA) investasi pabrik baterai kendaraan listrik dengan konsorsium baterai yaitu LG dari Korea Selatan. Konsorsium terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LG International, POSCO, dan Huayou Holding.
Penandatangan HoA menunjukkan proyek pembangunan baterai kendaraan listrik segera dimulai.

Konsumsi energi nasional didominasi sektor transportasi sebesar 45%. Sejak 2013-2018,
kenaikan jumlah kendaraan bermotor meningkat 41% atau rata-rata terjadi peningkatan sebesar 8% tiap tahunnya. Konsumsi bahan bakar minyak (BBM) juga terus meningkat namun kapasitas kilang BBM tidak bertambah. Pengembangan BEV yang hemat energi menjadi solusi untuk;
mengurangi pemakaian BBM pada sektor transportasi sehingga mampu meningkatkan efisiensi energi, keberlangsungan ketahanan energi nasional, konservasi energi sektor transportasi, serta terwujudnya energi bersih, kualitas udara bersih, dan ramah lingkungan.

BACA JUGA  Pemerintah Setujui Insentif Blok Mahakam

Policy Brief ini mengusulkan rekomendasi strategi korporasi dalam mengoptimalkan
pengembangan BEV dengan mendorong percepatan ekosistem BEV di Indonesia. Strategi tersebut terbukti berhasil meningkatkan jumlah BEV di Tiongkok, Amerika Serikat, dan Eropa melalui instrumen kebijakan yang aktif baik dari sisi supply dan demand. IBC dapat berperan sebagai orkestrator didukung oleh pihak swasta domestik dalam penyediaan infrastruktur seperti charging station dan swapping station. Penyediaan fasilitas industri dalam rantai pasok BEV juga masih harus didorong karena belum banyak beroperasi di Indonesia. Saat ini juga belum ada industri manufaktur mobil listrik sehingga menyulitkan masyarakat dalam memilih alternatif untuk beralih ke BEV. Terakhir, Pemerintah perlu lebih masif menginformasikan insentif BEV agar mempercepat masyarakat untuk beralih dari mobil berbasis Internal Combustion Engine (ICE).

Policy Brief CPPM merupakan produk dari Center for Policy and Public Management SBM ITB. Center ini berfokus pada isu-isu kebijakan nasional dan manajemen publik yang berbasis pada penelitian. Penelitian tersebut mencakup bidang energi, ketahanan pangan, inovasi, perubahan iklim, transportasi, logistik, dan ekonomi, baik penelitian mandiri maupun penelitian bersama dengan institusi pemerintah, perusahaan publik, dan perusahaan swasta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *