Kunjungi Pertamina Patra Niaga Sulut, BPH Migas Cek Dapur Energi Kawasan Timur

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bitung, Sulawesi Utara, ruangenergi.com-Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas melakukan kunjungan kerja ke PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Utara, Rabu (7/1/2026), untuk memastikan kesiapan infrastruktur, distribusi, serta ketahanan stok BBM di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya.

Wahyudi Anas tidak sendiri. Dia didamping 2 anggota Komite Bph Migas yakni:  Hasbi Anshory dan Harya Adityawarman.

Dalam kunjungan tersebut, ruangenergi.com mencatat, manajemen Pertamina Patra Niaga memaparkan secara komprehensif kondisi operasional mulai dari penerimaan, penyimpanan, hingga pola distribusi BBM ke masyarakat, industri, dan sektor transportasi laut maupun udara.

Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa suplai BBM di wilayah ini ditopang oleh Integrated Terminal Bitung yang memiliki peran strategis sebagai hub penerimaan dari kilang dan terminal suplai lain. Fasilitas jetty, tangki timbun, hingga armada mobil tangki dan bridger laut disiapkan untuk menjamin kelancaran distribusi ke SPBU, APMS, SPBU Kompak, hingga penyaluran ke pulau-pulau terluar.

Kapasitas tangki untuk produk gasoline, gasoil, avtur, hingga kerosene ditunjang dengan sistem buffer zone yang dirancang untuk mengantisipasi lonjakan permintaan maupun gangguan cuaca ekstrem.

Dalam paparannya, Pertamina Patra Niaga juga menampilkan pola suplai dan distribusi BBM yang mencakup jalur darat dan laut. BBM dari Bitung disalurkan ke berbagai Fuel Terminal seperti Tahuna, Gorontalo, Luwuk, Poso, hingga Banggai, memastikan layanan energi menjangkau wilayah kepulauan dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).

Distribusi ini melayani tidak hanya sektor ritel, tetapi juga industri, kelistrikan, perikanan, hingga marine melalui skema bunker dan penyaluran khusus.

Stok Nasional di Atas Batas Minimum

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kondisi stok BBM nasional per 6 Januari 2026. Data BPH Migas menunjukkan seluruh jenis BBM utama berada di atas batas minimum ketahanan hari. Pertalite (RON 90) tercatat memiliki ketahanan lebih dari 22 hari.Pertamax (RON 92) bahkan mencapai di atas 27 hari. Pertamax Turbo (RON 98) mencatat ketahanan paling tinggi, lebih dari 58 hari. Untuk gasoil, Solar dan Dex berada pada kisaran 17–25 hari. Avtur dan Kerosene juga dalam kondisi aman

“Angka ini menunjukkan sistem suplai nasional berjalan dengan baik, termasuk di wilayah timur Indonesia,” menjadi salah satu penekanan dalam pemaparan tersebut.

Pertamina Patra Niaga juga memaparkan tren kenaikan retail fuel sales selama periode akhir 2025, khususnya menjelang Natal dan Tahun Baru. Tercatat terjadi lonjakan throughput ritel yang dipengaruhi mobilitas masyarakat, meski sempat dihadapkan pada tantangan keterlambatan suplai akibat faktor cuaca.

Namun demikian, langkah mitigasi cepat dilakukan melalui pengaturan ulang distribusi dan penguatan armada, sehingga kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengapresiasi kesiapan infrastruktur dan manajemen distribusi BBM di Regional Sulawesi Utara. Menurutnya, wilayah ini memiliki tantangan geografis yang kompleks, namun mampu dikelola dengan perencanaan dan koordinasi yang solid.

“Ketersediaan dan kelancaran distribusi BBM adalah kunci menjaga stabilitas ekonomi dan aktivitas masyarakat. Apa yang dipaparkan hari ini menunjukkan kesiapan yang baik,” ujar Wahyudi dalam kunjungan tersebut.

Kunjungan ini sekaligus menjadi penegasan komitmen BPH Migas dan Pertamina Patra Niaga untuk terus menjaga ketahanan energi nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia yang menjadi etalase pemerataan energi.