Lifting Pamungkas di Tengah Bencana: BPMA dan KKKS Aceh Kirim 92 Ribu Barel Kondensat ke Tuban

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Lhokseumawe, Aceh, ruangenergi.com— Di tengah kepungan bencana banjir dan tanah longsor yang melumpuhkan sebagian wilayah Aceh pada awal Desember 2025, sebuah misi krusial di sektor energi justru berhasil dituntaskan dengan gemilang.

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) bersama para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sukses melaksanakan pengapalan (lifting) kondensat terakhir di tahun ini. Menerjang kondisi darurat yang berdampak langsung pada operasional hulu migas di Aceh Utara dan Aceh Timur, “kado akhir tahun” ini tetap berlayar mulus demi pasokan energi nasional.

Lifting pamungkas ini mengangkut total 92.592,08 barel kondensat menggunakan kapal MT Supreme Star. Kargo berharga tersebut ditujukan untuk Kilang TPPI Tuban, Jawa Timur. Angka ini merupakan gabungan dari 61.750 barel produksi Blok A dan 30.842,08 barel dari Blok B.

Tembus Target 100 Persen

Deputi Operasi BPMA, Muhammad Mulyawan, mengungkapkan rasa leganya. Meski alam sedang tak bersahabat, total lifting kondensat sepanjang tahun 2025 berhasil menyentuh angka 608.599 barel.

“Secara kumulatif, capaian realisasi lifting kondensat tahun 2025 telah mencapai 100 persen dari target WP&B (Work, Program & Budget). Rinciannya, Blok A tembus 102 persen dan Blok B sebesar 98 persen,” jelas Mulyawan.

Keberhasilan ini, menurut Mulyawan, tak lepas dari strategi cerdas fungsi komersialisasi. Pihaknya melakukan optimalisasi pengambilan stok bagian negara, termasuk menyedot deadstock di tangki nominasi Blok A, setelah memastikan keamanan teknis dengan tim operasi.

Kepala BPMA, Nasri, memberikan apresiasi tinggi atas kerja keras seluruh tim di lapangan. Ia mengakui, penutupan tahun 2025 adalah masa yang berat. Bencana banjir dan longsor sempat memaksa sebagian kegiatan produksi dihentikan sementara demi keselamatan.

“Capaian ini menjadi energi positif bagi kinerja migas Aceh di tengah kondisi yang penuh tantangan. Sinergi antara BPMA dan KKKS menjadi kunci agar kegiatan operasional tetap dapat berjalan,” ujar Nasri.

Nasri menegaskan, fokus BPMA saat ini adalah mendukung penuh KKKS untuk menstabilkan kembali produksi pascagangguan bencana. Tim operasi telah mengonfirmasi bahwa keran produksi di Blok A dan Blok B kini sudah dibuka kembali secara bertahap.

Menatap tahun 2026, target produksi telah dikunci melalui ketetapan WP&B yang disusun Oktober lalu. BPMA berharap dukungan penuh dari masyarakat dan pemangku kepentingan agar “emas hitam” dari Tanah Rencong ini terus mengalir deras menopang target energi nasional.