Jakarta, ruangenergi.com — Lima delegasi Institut Teknologi PLN (ITPLN) dinyatakan lulus dan meraih sertifikat internasional usai mengikuti The Japan–US Training Program on Responsible Use of SMR Technology for Indonesia. Program pelatihan pemanfaatan teknologi nuklir ini digelar dengan fokus pada penggunaan Small Modular Reactor (SMR) yang bertanggung jawab.
Kelima delegasi tersebut merupakan bagian dari 13 perwakilan Indonesia yang mengikuti pelatihan. Mereka adalah Rektor ITPLN Prof. Iwa Garniwa, Ketua Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development (GINEST) ITPLN Agus Puji Prasetyono, Sekretaris Jenderal GINEST Nadia Paramita, Pembina GINEST ITPLN Prof. Syamsir Abduh, serta Tim Ahli GINEST Tarwaji Warso.
Seluruh delegasi ITPLN dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat dari Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS) Jepang. Mereka juga melihat langsung proses nuklir menjadi energi listrik di Japan Nuclear Energy Plant hingga memasuki reaktor nuklir dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi.
Rektor ITPLN, Prof. Iwa Garniwa memastikan, ITPLN tidak mau tertinggal dalam momentum penting dalam mewujudkan PLTN di Indonesia. Menurutnya, komunikasi dan jejaring yang telah dibangun GINEST baik di dalam maupun luar negeri, menjadi fondasi kuat bagi ITPLN untuk tampil sebagai pemimpin di sektor nuklir ini.
“Kita jangan ketinggalan. Ketika Pak Agus membangun komunikasi, baik nasional maupun internasional, itu menumbuhkan keinginan dan kesiapan untuk membangun kapasitas kita,” ujar Prof. Iwa di Jakarta, 28 Januari 2026.
Ia berharap, ketika pengembangan energi nuklir secara resmi ditetapkan melalui keputusan presiden, ITPLN dapat menjadi perguruan tinggi terdepan dalam menyiapkan para pemimpin dan tenaga ahli nuklir nasional.
“Saat ini, belum ada perguruan tinggi lain yang memiliki posisi dan pengalaman seperti ITPLN. Karena itu, saya berharap ITPLN menjadi leader ketika kebijakan nuklir ini diketok,” ujarnya.
Prof. Iwa juga menyinggung partisipasi ITPLN dalam The Japan–US Training Program on Responsible Use of SMR Technology for Indonesia. Keikutsertaan tersebut, menurutnya, menjadi bukti konkret eksistensi dan pengakuan ITPLN di tingkat global. Setiap program penelitian ITPLN bisa diakses melalui laman www.itpln.ac.id.
Sekretaris Jenderal GINEST ITPLN,Nadia Paramita menegaskan, pelatihan tersebut tidak berfokus pada aspek teknis desain reaktor secara rinci, melainkan pada tata kelola dan pemanfaatan SMR yang aman dan bertanggung jawab.
“Pelatihan ini menekankan responsible use teknologi SMR, mulai dari aspek keselamatan, regulasi, hingga penerimaan publik. Bukan sekadar bagaimana reaktornya bekerja, tetapi bagaimana teknologi ini digunakan secara aman, transparan, dan patuh aturan,” kata Nadia.
Ia menjelaskan, materi utama pelatihan mencakup pengantar teknologi SMR, termasuk konsep dasar dan perbedaannya dengan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) konvensional, serta ragam aplikasinya untuk kelistrikan, industri, hingga wilayah terpencil.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mendalam mengenai keselamatan dan keamanan nuklir, pencegahan kecelakaan, mitigasi risiko, serta perlindungan fisik material nuklir. Aspek regulasi dan tata kelola menjadi perhatian penting, dengan mengacu pada kerangka internasional Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dan pembelajaran dari Jepang serta Amerika Serikat.
“Isu non-proliferasi, pengawasan internasional, hingga manajemen limbah radioaktif juga menjadi bagian penting dari pelatihan ini,” ujar Nadia.
Menurutnya, pelatihan tersebut juga menyoroti dampak lingkungan dan sosial, termasuk strategi komunikasi risiko dan peningkatan penerimaan publik terhadap teknologi nuklir. Di sisi lain, kesiapan Indonesia dalam mengadopsi SMR turut dibahas, mencakup tantangan kebijakan, kapasitas sumber daya manusia, dan infrastruktur pendukung.
Nadia menilai, pelatihan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kapasitas nasional dalam menghadapi wacana pemanfaatan energi nuklir di Indonesia secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.
Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar pada 19-23 Januari 2026 ini digelar KBRI Tokyo bekerja sama dengan Kementerian Perindustrian RI. Program ini merupakan bagian dari penguatan kerja sama Indonesia–Jepang–Amerika Serikat (AS) dalam mendukung transisi energi nasional Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Dalam pelatihan ini, peserta mendapat kesempatan untuk langsung meninjau salah satu fasilitas PLTN di Jepang yang dikelola oleh JAPC di Tsuruga. Sehingga, peserta bisa melihat langsung proses pembangunan mulai perencanaan, persiapan tapak pembangunan reaktor nuklir, tahap komisioning hingga reaktor yang sedang beroperasi dalam satu waktu. Di PLTN itu, pemerintah setempat membangun 4 unit reaktor, yakni Boiling water reactor dengan kapasitas ~340 MWe, lalu Pressurized Water Reactors dengan kapasitas terpasang ~1 160 MWe, serta dua unit lainnya dengan masing-masing kapasitas 1 538 MWe masih dalam tahap perencanaan pembangunan













