Mahasiswa ITB Sabet Juara IPFEST 2026, Kembangkan AI untuk “Membaca” Sumur Migas Bermasalah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Bandung, Jawa Barat, ruangenergi.com-Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikan bahwa inovasi anak muda bisa menjadi jawaban atas tantangan industri energi. Lewat sebuah solusi berbasis kecerdasan buatan (AI), mereka sukses meraih gelar Champion dalam ajang Hackathon Competition IPFEST 2026.

Dikutip dari website ITB, Tim bernama Hengker Berkelas itu digawangi oleh Afdinal Ghibran Batubara dan Rivo Parhorasan Manalu dari Teknik Perminyakan angkatan 2022, serta Ghazy Achmed Movlech Urbayani dari Sistem Teknologi dan Informasi angkatan 2023.

Alih-alih menawarkan konsep yang rumit, mereka menghadirkan solusi yang sangat relevan dengan persoalan klasik industri migas: menentukan sumur mana yang perlu diintervensi.

Dalam kompetisi tersebut, tim ini mengembangkan sistem screening kandidat sumur intervensi berbasis machine learning. Teknologi ini dirancang untuk membantu engineer memilah sumur bermasalah secara lebih cepat, akurat, dan berbasis data.

Seiring bertambah matangnya lapangan migas, volume data produksi terus meningkat. Proses seleksi sumur yang selama ini dilakukan secara manual pun menjadi semakin kompleks, memakan waktu, dan rawan bias.

Melalui pendekatan AI, pola-pola yang mengindikasikan penurunan performa sumur dapat dikenali lebih dini. Artinya, keputusan intervensi tidak lagi sekadar mengandalkan intuisi, tetapi didukung analisis sistematis berbasis data historis.

Inovasi ini bukan sekadar canggih secara teknologi, tetapi juga menjanjikan dampak ekonomi yang signifikan.

Dengan memangkas waktu evaluasi teknis, perusahaan migas berpotensi mempercepat siklus pengembangan lapangan. Lebih dari itu, sistem ini juga dapat mengurangi risiko kesalahan akibat human error dan bias kognitif dalam pengambilan keputusan.

Tim memperkirakan, implementasi teknologi ini bisa menghemat hingga jutaan dolar dengan menekan kemungkinan intervensi sumur yang tidak tepat sasaran.

Menariknya, mereka juga melengkapi solusi ini dengan pendekatan stokastik untuk mengevaluasi dampaknya terhadap nilai ekonomi proyek—sebuah aspek yang menjadi nilai tambah kuat di mata juri.

Meski demikian, sistem yang dikembangkan masih berada pada tahap simulasi. Ke depan, pengembangannya akan difokuskan pada integrasi dengan data lapangan aktual, penambahan variasi dataset, serta kalibrasi agar mampu menyesuaikan karakteristik unik tiap lapangan migas.

Dengan pengembangan lanjutan, sistem ini diharapkan menjadi lebih adaptif dan siap diterapkan di industri secara nyata.

Keberhasilan Tim Hengker Berkelas tak lepas dari kolaborasi lintas disiplin. Perpaduan keahlian teknik perminyakan dan teknologi informasi menghasilkan solusi yang tidak hanya relevan secara teknis, tetapi juga kuat dari sisi algoritma dan sistem.

Mereka juga menerapkan pola kerja modular untuk menjaga produktivitas di tengah kesibukan akademik. Setiap anggota fokus pada peran spesifik, memungkinkan pengembangan berjalan paralel dan efisien.

Namun, di balik semua itu, ada satu pelajaran penting yang mereka garis bawahi: komunikasi.

Perbedaan latar belakang yang awalnya berpotensi menjadi tantangan justru berubah menjadi kekuatan saat mereka saling memahami perspektif satu sama lain.

Gelar juara di IPFEST 2026 bukanlah akhir, melainkan titik awal. Tim Hengker Berkelas berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan dan suatu hari benar-benar digunakan di industri migas nasional.

Bagi mereka, kemenangan ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga tentang kontribusi—bagaimana teknologi dapat membantu industri energi Indonesia menjadi lebih efisien, cerdas, dan kompetitif di masa depan.