Manajemen PHE–Pertamina Drilling “Turun Gunung” ke Blora, Pastikan Pengeboran Tetap Aman di Bulan Ramadan

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Blora, Jawa Tengah, ruangenergi.com — Suasana berbeda terasa di lokasi pengeboran Sumur Eksplorasi DRJ-001, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Selasa (17/3/2026). Jajaran pimpinan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Subholding Upstream bersama PT Pertamina Drilling Services Indonesia (Pertamina Drilling) turun langsung ke lapangan dalam agenda Management Walkthrough (MWT).

Kunjungan ini menjadi bagian dari Safari Ramadan 1447 H—bukan sekadar silaturahmi, tapi juga momen penting untuk memastikan aktivitas pengeboran tetap berjalan aman dan sesuai standar keselamatan, meski para pekerja tengah menjalankan ibadah puasa.

Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, menegaskan bahwa kehadiran manajemen di lokasi operasi adalah bentuk dukungan langsung bagi para pekerja lapangan.

“Manajemen hadir untuk memastikan semua tetap bekerja dengan mengutamakan keselamatan, tetap fokus meski sedang berpuasa dan menjelang Lebaran,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada tim Rig PDSI#40.3 yang dinilai berhasil menjaga operasi tetap aman dan terkendali. Menurutnya, budaya keselamatan bukan sekadar slogan, melainkan harus menjadi kebiasaan yang dijalankan setiap hari.

“Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dari keselamatan. Prinsip No Permit, No Work harus jadi pegangan,” tegas Awang.

Dalam kunjungan tersebut, manajemen juga mengingatkan pentingnya Pre Job Safety Meeting (PJSM) yang tidak hanya membahas pekerjaan, tetapi juga potensi risiko dan cara mengantisipasinya sejak awal.

Sementara itu, Direktur Operation Pertamina Drilling, Aziz Muslim, turut menyampaikan pesan sederhana namun bermakna kepada para pekerja: mulai setiap aktivitas dengan doa.

Menurut Aziz, budaya safety justru dibangun dari hal-hal kecil yang konsisten dilakukan—seperti disiplin mengikuti tailgate meeting, berani menghentikan pekerjaan jika ada kondisi tidak aman (Stop Work Authority), hingga aktif berdiskusi dalam PJSM.

“Safety itu bukan sekadar poster atau banner. Harus benar-benar hidup di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, komunikasi dua arah dalam tim sangat penting agar setiap pekerja benar-benar memahami pekerjaan yang akan dilakukan, termasuk risiko dan langkah mitigasinya.

Kunjungan ini diharapkan semakin memperkuat budaya keselamatan di lingkungan kerja migas. Lebih dari itu, menjadi pengingat bahwa di balik target produksi, keselamatan tetap menjadi prioritas utama.