Mantap! DEN Soroti Ketahanan Energi di Dua Kawasan Industri Raksasa Jawa Tengah

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Batang, Jawa Tengah, ruangenergi.com-Laju industrialisasi di pesisir utara Jawa kian tak terbendung. Di balik deru mesin dan geliat investasi, satu isu menjadi sorotan utama: energi. Itulah benang merah kunjungan Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (APK DEN) ke Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang, Kamis (12/2).

Dua kawasan raksasa ini dinilai bukan sekadar pusat manufaktur baru, tetapi simpul strategis hilirisasi dan transisi energi nasional.

“Kawasan industri di Jawa Tengah, khususnya Kawasan Industri Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang, memiliki peran strategis sebagai pusat pertumbuhan industri nasional yang terus berkembang dan membutuhkan pasokan energi yang andal, efisien, dan berkelanjutan,” tegas Koordinator Bulanan APK DEN, Satya Widya Yudha, saat membuka diskusi bersama Direksi KIK di Kendal, seperti dikutip dari website DEN.

Di Kawasan Industri Kendal, APK DEN meninjau langsung industri berbasis energi baru terbarukan (EBT) dan teknologi tinggi. Salah satunya PT BTR, perusahaan pertama di Indonesia yang memproduksi material anoda baterai litium dalam skala besar—komponen krusial kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

Tak jauh dari sana, berdiri megah fasilitas PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), pabrik panel surya terintegrasi terbesar di Indonesia yang resmi beroperasi Juni 2025. Kehadiran dua industri ini mempertegas posisi Kendal sebagai simpul penting rantai pasok industri energi masa depan, dari hulu material hingga modul pembangkit surya.

Namun, transformasi industri ini menuntut energi dalam jumlah besar. Dengan luas pengembangan 2.200–2.700 hektare, KIK mencatat konsumsi listrik tahunan 400–600 GWh. Saat okupansi penuh, kebutuhan diproyeksikan melonjak hingga 1,5–2,5 TWh per tahun.

Gas bumi pun menjadi tulang punggung proses produksi berbasis panas seperti boiler dan furnace. Saat ini kebutuhan gas berada di kisaran 3–5 MMSCFD. Dalam jangka menengah bisa meningkat menjadi 10–15 MMSCFD, bahkan berpotensi menembus 20–30 MMSCFD saat kawasan beroperasi penuh.

 

 

 

 

Perjalanan berlanjut ke Kawasan Industri Terpadu Batang, kawasan seluas 3.500 hektare yang dikembangkan dengan konsep Batang Waterfront City. Ambisinya jelas: menjadi pusat industri modern berbasis manufaktur bernilai tambah tinggi.

Proyeksi kebutuhannya tak kalah impresif. Listrik diperkirakan mencapai 3.693 MW, sementara permintaan gas pipa pada 2029 ditaksir menyentuh 14,79 BBTUD.

Di sini, APK DEN meninjau operasional PT SEG Solar Manufaktur Indonesia, fasilitas manufaktur fotovoltaik terintegrasi terbesar di Asia Tenggara yang memproduksi sel dan modul surya dalam satu kawasan. Rantai industri diperkuat oleh PT KCC Glass Indonesia, produsen kaca lembaran skala besar yang menopang kebutuhan sektor konstruksi dan panel surya.

Kunjungan ini menegaskan satu fakta: industrialisasi tanpa energi yang andal adalah ilusi. Apalagi sektor industri menyerap sekitar 46 persen konsumsi energi nasional.

Melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), pemerintah mendorong transformasi bauran energi, peningkatan porsi EBT, serta pengurangan ketergantungan pada energi fosil.

Di tengah ambisi Indonesia menjadi pusat manufaktur global dan pemain utama rantai pasok energi hijau, kesiapan infrastruktur listrik dan gas bukan lagi sekadar kebutuhan teknis, melainkan fondasi daya saing nasional.

Dari Kendal hingga Batang, pesan DEN jelas: transisi energi tak boleh tertinggal dari laju industrialisasi. Sebab di balik setiap panel surya, baterai litium, dan lembaran kaca industri, ada satu kebutuhan mendasar—energi yang cukup, bersih, dan berkelanjutan.