Membuka Blok “Perawan” di Timur Indonesia, Begini Cara Ditjen Migas Tawarkan Potensi WK Migas

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempertegas strategi eksplorasi nasional dengan mengarahkan investasi hulu migas ke kawasan frontier (wilayah yang belum terjamah secara masif).

Dalam rencana lelang tahap ketiga tahun 2025 yang akan digelar pekan depan, pemerintah menyiapkan delapan Wilayah Kerja (WK) migas yang mayoritas berlokasi di area high risk-high reward di Indonesia Tengah dan Timur.

Langkah strategis ini dikonfirmasi oleh Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman. Ia menekankan bahwa penawaran blok-blok baru ini bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan upaya teknis untuk membuka potensi cadangan baru di luar cekungan matang (mature basins) di wilayah Barat.

“Umumnya di Indonesia Tengah dan Timur. Salah satunya ada di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra),” ujar Laode dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Pentingnya Eksplorasi Kawasan Timur

Penekanan pada wilayah Sulawesi Tenggara dan Indonesia Timur mengindikasikan upaya pemerintah untuk mendiversifikasi portofolio hulu migas. Sebagian besar lapangan eksisting di Indonesia Barat kini telah memasuki fase natural decline (penurunan produksi alamiah). Oleh karena itu, pembukaan data di kawasan frontier seperti Sultra menjadi krusial untuk menemukan cadangan signfikan (giant discovery) yang dapat menopang profil produksi nasional di masa depan.

Laode menjelaskan, ke-75 blok yang masuk dalam peta jalan penawaran pemerintah—termasuk 8 blok yang akan dilelang minggu depan—diproyeksikan sebagai tulang punggung cadangan (reserves replacement) jangka panjang.

Secara teknis, proses lelang ini diprediksi akan didominasi oleh perusahaan yang memegang hak matching right melalui mekanisme Studi Bersama (Joint Study). Peserta yang telah melakukan Joint Study dinilai memiliki keunggulan komparatif karena telah melakukan evaluasi Geologi dan Geofisika (G&G) lebih awal, sehingga memiliki pemahaman risiko subsurface yang lebih komprehensif dibanding penawar lain.

“Peserta lelang umumnya berasal dari perusahaan yang sebelumnya telah melakukan joint study. Perusahaan-perusahaan tersebut dinilai memiliki keunggulan karena telah mengantongi data yang lebih lengkap mengenai potensi wilayah kerja yang ditawarkan,” jelas Laode.

Indikator positif dari sisi teknis dan keekonomian juga terlihat dari kembalinya International Oil Companies (IOC) ke kancah eksplorasi Indonesia. Shell, yang sebelumnya melakukan divestasi aset, kini kembali masuk dengan mengajukan proposal joint study di lima WK bersama KUFPEC. Hal ini menandakan bahwa prospektivitas cekungan sedimen Indonesia masih dinilai kompetitif secara teknis oleh para geoscientist global.

Minat dari pemain besar seperti ENI, Petronas, PetroChina, dan Mubadala Energy juga didorong oleh perbaikan rezim fiskal. Fleksibilitas pemilihan skema kontrak—baik Gross Split maupun Cost Recovery—serta paket insentif fiskal yang ditawarkan, dinilai mampu meningkatkan keekonomian proyek (IRR), khususnya untuk pengembangan lapangan di area frontier dan laut dalam (deepwater) yang membutuhkan belanja modal (CAPEX) besar.