Menanam Harapan, Menuai Kemandirian: Cerita Warga Semberah Merawat Alam Bersama PEP Sangatta Field

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Kukar, Kaltim, ruangenergi.com-Di hamparan lahan Desa Tanah Datar, Kutai Kartanegara, tantangan bagi para petani bukan sekadar soal cuaca. Selama bertahun-tahun, mereka bergulat dengan tanah yang kian asam, ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal, hingga ancaman kebakaran lahan yang mengintai saat musim kering. Namun, sebuah perubahan sistemik kini tengah bersemi, mengubah wajah pertanian setempat menjadi lebih hijau, mandiri, dan inklusif.

Perubahan itu bernama PELITA BUWANA (Pengelolaan Limbah Terintegrasi untuk Budidaya Pertanian Regeneratif dan Wujudkan Ketahanan Pangan). Sebuah inovasi sosial yang diusung oleh PT Pertamina EP (PEP) Sangatta Field sebagai bagian dari program CSR ECO-STEP Semberah.

Bagi masyarakat sekitar wilayah operasi Lapangan Semberah, PELITA BUWANA bukan sekadar program bantuan, melainkan sebuah ekosistem baru yang memutus rantai masalah klasik pertanian.

Keunikan program ini terletak pada konsep sirkularnya. Tidak ada yang terbuang; apa yang dianggap sampah oleh satu sektor, menjadi emas bagi sektor lainnya.

Bayangkan sebuah rantai yang tak terputus: Limbah baglog jamur tiram yang tak terpakai, disulap menjadi campuran pakan ternak ayam pedaging. Dari kandang ayam, kotoran ternak tidak dibiarkan mencemari lingkungan, melainkan diolah menjadi pupuk organik cair untuk pertanian semiorganik. Sebaliknya, limbah sawit dan kayu diolah oleh Depot Energi berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) menjadi media tanam.

“Inovasi sosial kami, salah satunya PELITA BUWANA, diharapkan mampu menciptakan nilai manfaat yang dapat dinikmati bersama atau creating shared value dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara terintegrasi,” ujar Dharma Saputra, Head of Communication Relations & CID Zona 9.

Kolaborasi ini melibatkan tiga kelompok masyarakat utama: Kelompok Tani Wira Karya (pertanian & energi), Kelompok Ternak Idaman (peternakan ayam), dan Kelompok Wanita Tani Berseri (jamur tiram). Di tangan mereka, 31 ton limbah organik dan ratusan kilogram limbah anorganik yang dulunya menjadi beban lingkungan, kini diolah kembali menjadi sumber daya bernilai ekonomi setiap tahunnya.

Di balik angka-angka teknis, terdapat wajah-wajah yang hidupnya berubah. Program ini dirancang menyentuh mereka yang kerap terpinggirkan. Sebanyak 12 rumah tangga prasejahtera, empat lansia, dan belasan perempuan rawan sosial ekonomi kini memiliki peran vital dalam roda ekonomi desa.

Sebut saja Choirul Munasikin, atau akrab disapa Pak Ahmad. Petani hortikultura dengan pengalaman dua dekade ini kini memimpin regenerasi sebagai Ketua Kelompok ECO-STEP. Ada pula Mardiyah, sosok perempuan tangguh yang aktif dalam penguatan kelompok wanita tani.

Mereka tidak hanya bertani, tetapi juga belajar. Kelompok masyarakat kini telah mengantongi legalitas usaha lengkap mulai dari NIB, PIRT, hingga sertifikat halal. Tradisi lokal seperti Mapulus dan Tasyukuran Tanam Panen pun tetap hidup, berdampingan harmonis dengan teknologi modern seperti instalasi hidroponik dan alat asap cair.

Dampak dari “lingkaran kebaikan” ini sangat terasa di kantong petani. Inovasi ini berhasil memangkas biaya pembelian pupuk hingga Rp37,5 juta per tahun dan pestisida sebesar Rp18 juta. Secara total, sustainability compass program mencatat penurunan biaya kebutuhan pertanian mencapai Rp57 juta per tahun, sembari meningkatkan pendapatan rata-rata anggota sebesar Rp250 ribu per bulan.

Namun, manfaatnya melampaui sekadar rupiah. Dengan berkurangnya pembukaan lahan baru dengan cara membakar, risiko bencana kebakaran hutan dan banjir menurun drastis, memberikan rasa aman bagi 160 kepala keluarga di wilayah rawan bencana.

PELITA BUWANA membuktikan bahwa ketahanan pangan—sesuai amanat Asta Cita pemerintah—dapat dicapai bukan dengan mengeksploitasi alam, melainkan dengan memulihkannya.

PEP Sangatta Field, yang berada di bawah naungan Subholding Upstream Regional 3 Kalimantan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) dan bekerja sama dengan SKK Migas, menegaskan bahwa inovasi ini adalah langkah konkret mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Di Tanah Datar, limbah kini bukan lagi masalah, tetapi pelita yang menerangi jalan menuju kemandirian.