Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Bagi warga yang melintasi Jalan Yos Sudarso, Balikpapan, gemerlap cahaya kilang di malam hari mungkin adalah pemandangan yang biasa. Namun, di balik ribuan lampu yang menghiasi cakrawala kota tersebut, sebuah revolusi energi sedang dimasak.
Ini bukan sekadar perbaikan pabrik biasa. PT Pertamina (Persero), melalui anak usahanya PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), tengah menyempurnakan Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan. Sederhananya, ini adalah sebuah proyek “Dapur Energi” raksasa yang dirancang untuk mengakhiri ketergantungan impor dan mewujudkan swasembada energi nasional.
Lantas, bagaimana cara kerja dapur raksasa ini? Mari kita bedah “resep” infrastruktur terintegrasi mereka.
Filosofi Dapur Modern: Dari Kompor hingga Kulkas Raksasa
Membangun kilang minyak modern tak ubahnya membangun restoran bintang lima dengan kapasitas masif. Sebuah dapur tidak hanya butuh koki, tetapi juga pasokan gas yang tak boleh mati, gudang penyimpanan yang luas, hingga sistem penyajian yang cepat. Selang Gas Anti-Macet Agar “kompor” kilang bisa menyala stabil 24 jam, Pertamina membangun Pipa Gas Senipah-Balikpapan sepanjang 78 km. Dengan kapasitas alir 125 MMSCFD, pipa ini ibarat selang gas yang menjamin api di dapur pengolahan tidak akan pernah padam, memastikan proses memasak minyak mentah berjalan efisien.
Pintu Gerbang dan Gudang Bahan Baku Sebelum dimasak, bahan baku harus disiapkan. Di perairan Kabupaten Penajam Paser Utara, telah berdiri dermaga terapung atau Single Point Mooring (SPM) berkapasitas 320.000 DWT. Fasilitas ini begitu tangguh hingga mampu disandari oleh kapal pengangkut minyak raksasa (VLCC).
Dari sana, minyak dialirkan ke “kulkas” penyimpanan di Lawe-Lawe. Tak main-main, ada dua tangki raksasa baru yang masing-masing mampu menampung 1 juta barel minyak. Ini menambah total cadangan menjadi 7,6 juta barel. Dengan stok bahan baku sebanyak ini, “masakan” untuk kebutuhan nasional dijamin aman dari risiko kelangkaan.
Koki Canggih Bernama CDU dan RFCC
Setelah bahan baku siap, giliran “koki” beraksi. Di sinilah peran unit Crude Distillation Unit (CDU) yang kini kapasitasnya telah ditingkatkan dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari.
Tak hanya itu, kilang ini juga dilengkapi dengan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Jika diibaratkan, RFCC adalah koki ahli yang mampu mengolah sisa bahan (residu) yang biasanya kurang bernilai, menjadi hidangan kelas atas.
Hasilnya? Berbagai variasi produk berkualitas tinggi seperti Gasoline, Diesel, dan Avtur dengan standar EURO V yang ramah lingkungan, hingga produk petrokimia. Setelah matang, semua produk ini didistribusikan salah satunya melalui Terminal BBM Tanjung Batu.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa proyek ini lebih dari sekadar urusan teknis. Ini adalah soal harga diri bangsa.
“RDMP Balikpapan bukan hanya tentang membangun kilang, tapi juga tentang membangun kedaulatan. Dengan infrastruktur yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, kita memastikan energi yang dikonsumsi masyarakat adalah hasil keringat bangsa sendiri,” ujar Baron.
Sistem yang harmonis ini—dari pipa gas, tangki raksasa, hingga unit pengolahan canggih—secara langsung akan memangkas impor BBM. Artinya, devisa negara lebih hemat dan ketahanan energi Indonesia makin kokoh.
Sejalan dengan koordinasi bersama Danantara Indonesia, langkah ini juga mempertegas komitmen Pertamina dalam transisi energi menuju Net Zero Emission 2060 dan penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) yang berkelanjutan.
Kilang Balikpapan kini bukan lagi sekadar penyulingan minyak tua, melainkan dapur masa depan yang siap menyajikan energi bersih untuk nusantara.













