Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com– Di bawah langit Kalimantan Barat yang cerah, deru mesin berat di Mempawah bukan sekadar tanda dimulainya konstruksi fisik. Di tanah merah ini, sebuah narasi baru tentang kemandirian ekonomi Indonesia sedang ditulis ulang dengan tinta emas.
Jumat itu menjadi saksi sejarah ketika Holding Industri Pertambangan Indonesia, MIND ID, bersama Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, menancapkan tonggak kedaulatan melalui proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) dan Smelter Aluminium. Namun, Mempawah hanyalah satu bab dari buku besar strategi ekonomi baru Indonesia.
Di balik layar proyek raksasa ini, terdapat orkestrasi strategis dari Danantara Indonesia. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa Februari 2026 menjadi bulan sibuk yang menentukan arah masa depan energi dan industri bangsa.
Tidak hanya di Kalimantan, denyut hilirisasi berdetak serentak di berbagai penjuru negeri dalam satu kurun waktu yang berdekatan.
“Nanti teman-teman akan melihat bahwa minggu depan itu, kurang lebih hari Jumat (13/2/2026), kita akan melakukan groundbreaking juga untuk bioetanol dan bioavtur,” ujar Dony dengan antusias di Gedung DPR, Jakarta, berkisah kepada wartawan yang hadir dan menyimak pernyataannya.
Ucapan Dony bukan isapan jempol. Pemerintah tancap gas merealisasikan total enam proyek hilirisasi sekaligus. Di saat Mempawah sibuk dengan bauksit, Cilacap di Jawa Tengah bersiap dengan kilang bioavtur (bahan bakar pesawat dari minyak jelantah), dan Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur, memulai pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter per tahun.
Keseriusan ini tercermin dari angka-angka fantastis yang digelontorkan. CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, merinci hitung-hitungan investasi yang menjadi “bensin” bagi mesin ekonomi baru ini.
Di bulan Februari 2026 ini, bukti keseriusan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menggagas sebuah maha karya berupa enam proyek hilirisasi, termasuk Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat.
Untuk mengubah wajah Mempawah menjadi pusat aluminium kelas dunia, Danantara memproyeksikan investasi pembangunan smelter aluminium mencapai US$ 2,4 miliar (sekitar Rp 40,21 triliun). Angka ini belum termasuk dana segar sebesar US$ 890 juta (sekitar Rp 14,9 triliun) yang dikucurkan khusus untuk fasilitas SGAR baru.
“Pembangunan smelter aluminium dan fasilitas SGAR dari bauksit di Mempawah adalah prioritas yang kami dorong. Ini adalah bukti nyata transformasi sumber daya mineral dari sekadar komoditas mentah menjadi bahan baku strategis,” tegas Rosan.
Logikanya sederhana namun menohok: Bauksit mentah yang dulu dijual murah seharga USD 40 per ton, kini diolah menjadi alumina seharga USD 400, hingga akhirnya menjadi aluminium bernilai USD 2.800 – USD 3.000 per ton. Sebuah lompatan nilai tambah ekonomi hingga 70 kali lipat.
Gelombang proyek ini bermuara pada visi besar Presiden Prabowo Subianto. Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Presiden memaparkan peta jalan ambisius: 18 Proyek Prioritas Hilirisasi.
Mulai dari industri smelter aluminium, stainless steel, modul surya terintegrasi, hingga industri berbasis pangan seperti nata de coco dan ikan filet tilapia. Total investasi yang disasar mencapai Rp 618 triliun.
“Sebanyak 18 proyek ini akan menciptakan 276.000 lapangan kerja berkualitas,” ucap Presiden Prabowo di Sentul, Jawa Barat.
Bagi Presiden, ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah tentang membuka 276.000 pintu harapan bagi keluarga Indonesia, menyerap tenaga kerja lokal, dan memutar roda ekonomi daerah.
Di lapangan, ambisi besar ini ditopang oleh fondasi energi yang kokoh. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota holding MIND ID, mengambil peran krusial sebagai penjamin pasokan energi bagi fasilitas di Mempawah. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail, menegaskan bahwa tanpa energi yang andal dan stabil, proses pemurnian bauksit tidak akan berjalan optimal.
“Dukungan energi ini menjadi bukti keseriusan kami dalam memperkuat rantai pasok industri dan ketahanan energi nasional,” kata Arsal.
Sinergi hulu ke hilir ini—dari tambang bauksit, pasokan energi PTBA, pengolahan oleh MIND ID, hingga dukungan finansial Danantara—menciptakan ekosistem industri yang solid.
Kini, Indonesia tidak lagi sekadar menonton kekayaan alamnya dikeruk dan dibawa pergi. Dari Mempawah hingga Banyuwangi, dari aluminium hingga bioetanol, bangsa ini sedang menyusun kepingan-kepingan kemandiriannya sendiri, menyongsong masa depan sebagai pemain kunci industri global.













