Menteri ESDM Pastikan Stok BBM dan Listrik Aman Jelang Nataru, Fokus Pemulihan Energi di Wilayah Bencana

Twitter
LinkedIn
Facebook
WhatsApp

Jakarta, ruangenergi.com — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kesiapan sektor energi nasional menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Pemerintah menjamin pasokan energi nasional dalam kondisi aman, meski dihadapkan pada tantangan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatra.

Bahlil menyampaikan bahwa kondisi tahun 2025 berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, lantaran adanya bencana hidrometeorologi yang berdampak signifikan di beberapa provinsi, khususnya Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Pemerintah pun mengerahkan sebagian besar sumber daya untuk membantu pemulihan di wilayah terdampak.

“Kita sama-sama tahu bahwa kondisinya di tahun 2025 ini berbeda dengan kondisi tahun sebelumnya. Karena kita kena musibah, terjadi bencana di Sumatra, khususnya di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Sebagian besar tenaga kita tercurahkan untuk mengerahkan seluruh kemampuan bangsa menolong saudara-saudara yang sedang menghadapi musibah,” ujar Bahlil saat konferensi pers bertajuk Kesiapan Sektor ESDM Menghadapi Periode Nataru di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (19/12).

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil menjelaskan terdapat empat aspek utama yang menjadi perhatian pemerintah, yakni ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM), Liquefied Petroleum Gas (LPG), listrik, serta antisipasi kebencanaan geologi.

Untuk BBM, ketahanan stok Pertalite (RON 90) tercatat mencapai 19 hari, berada di atas batas minimum nasional yang berkisar 17–18 hari. Sementara itu, stok bensin RON 92 berada di atas 23 hari dan RON 95 di atas 31 hari. Adapun untuk jenis solar, batas ketahanan minimum nasional adalah 14 hari. Solar CN 48 atau solar subsidi berada pada angka 15 hari, solar CN 53 atau non-subsidi sekitar 25 hari, dan avtur di atas 29 hari.

“Artinya dari sisi stok BBM, cadangan nasional kita untuk menjalankan Natal dan Tahun Baru insyaallah aman. Jadi saudara-saudara kita yang akan merayakan Natal, jangan pikirkan tentang stok BBM, insyaallah semua aman,” tegas Bahlil.

Terkait LPG, Bahlil menyebutkan bahwa hingga Jumat (19/12), stok LPG nasional tercatat sebesar 314.394 metrik ton (MT), dengan Daily Objective Throughput (DOT) sebesar 25.832 MT per hari. Dengan kondisi tersebut, cadangan LPG nasional mencapai 12,17 hari dan dinyatakan dalam status aman.

Untuk sektor ketenagalistrikan, Bahlil memastikan kondisi sistem kelistrikan nasional secara umum berada dalam keadaan normal. Ketersediaan bahan baku pembangkit listrik, baik BBM, gas, maupun batubara, juga tidak mengalami kendala dengan cadangan rata-rata di atas 10 hari.

Sementara itu, dalam aspek kebencanaan geologi, Kementerian ESDM telah melakukan mitigasi terhadap sejumlah gunung api. Tercatat tiga gunung api berstatus siaga, yakni Gunung Lewotobi Laki-laki, Merapi, dan Semeru, serta 24 gunung api lainnya berstatus waspada.

Pemulihan Energi Pasca Bencana

Pemerintah juga memprioritaskan pemulihan sektor energi, khususnya kelistrikan, di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pasca bencana. Bahlil menyampaikan bahwa kondisi kelistrikan di Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah berangsur pulih dan dapat diselesaikan sekitar satu minggu setelah bencana terjadi.

Untuk wilayah Aceh, Bahlil mengungkapkan bahwa Kota Banda Aceh telah kembali normal pada Kamis malam (18/12). Pasokan listrik dengan daya 120 megawatt di Banda Aceh sudah pulih seperti sebelum bencana.

Namun demikian, masih terdapat empat kabupaten di Aceh yang kondisi kelistrikannya berada di bawah 50 persen, yakni Kabupaten Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo, dan Aceh Tengah.

“Ini terjadi bukan karena mesin listriknya atau pembangkitnya tidak bisa tersuplai, tetapi karena infrastruktur tegangan rendah di lapangan belum terselesaikan. Ada sebagian jalan yang baru selesai, ada daerah yang masih banjir. Jika dipaksakan menyala, justru akan berdampak pada keselamatan masyarakat,” jelas Bahlil.

Secara umum, kelistrikan di Provinsi Aceh dinyatakan normal, kecuali di empat kabupaten tersebut yang masih mengalami pemadaman bergilir. Bahlil menambahkan bahwa sistem backbone kelistrikan Sumatra, termasuk jaringan Bireuen dan Arun, telah kembali terhubung dan diharapkan pemulihan dapat segera diselesaikan setelah infrastruktur pendukung rampung.

Untuk ketersediaan BBM dan LPG di tiga provinsi terdampak, Bahlil memastikan pasokan sudah mulai berangsur normal, kecuali di wilayah dengan akses transportasi yang masih terputus. Dalam kondisi tersebut, PT Pertamina melakukan upaya ekstra dengan mendistribusikan LPG menggunakan helikopter dan pesawat Hercules, terutama untuk menjangkau daerah seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.