Jakarta Pusat, Jakarta, ruangenergi.com-Bagi Salwa Ladita, jarak 1,4 kilometer dari rumahnya ke fasilitas operasi migas di Tarakan, Kalimantan Utara, bukan sekadar ukuran geografis. Jarak itu sempat terasa seperti jurang pemisah antara kenyataan hidup keluarganya yang sederhana dengan mimpi besarnya untuk mengenakan toga sarjana.
Lulusan SMKN 1 Tarakan ini menyadari betul, keinginan melanjutkan kuliah adalah sebuah kemewahan di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, tekad Salwa melampaui keraguannya. Ia menyimpan mimpi sederhana namun mendalam: menjadi sarjana pertama di keluarganya.
“Saya ingin membuat orang tua saya bangga karena akhirnya dapat memiliki anak yang bergelar sarjana,” tutur Salwa dengan mata berbinar.
Doa dan tekad itu terjawab di tahun 2025. PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) menetapkan Salwa bersama 14 putra-putri terbaik Kalimantan lainnya sebagai penerima Program Beasiswa Sobat Bumi Kalimantan (BSBK). Mereka bukan sekadar angka statistik penerima bantuan; mereka adalah wajah-wajah harapan dari keluarga prasejahtera di sekitar wilayah operasi perusahaan di Kalimantan Timur, Utara, dan Selatan.
Air Mata Bahagia di Balikpapan
Momen inagurasi pada 17 November 2025 di Balikpapan menjadi saksi bisu kebahagiaan yang membuncah. Salwa, yang kini resmi menjadi mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Borneo Tarakan (UBT), tak sendiri. Di belakangnya, ada dukungan tak putus dari ibu dan neneknya—sosok-sosok tangguh yang menjadi pilar kekuatannya.
Bagi Salwa, beasiswa penuh (full scholarship) ini bukan hanya soal biaya SPP atau uang saku. Ini adalah tiket untuk mengubah nasib. Sejak menulis Motivation Letter dalam proses seleksi, ia telah menanamkan janji: ilmu yang didapatnya kelak harus menular menjadi manfaat bagi orang lain.
“Beasiswa ini menjadi awal perjalanan untuk terus belajar, berkembang, dan berkontribusi menciptakan perubahan nyata di masyarakat melalui Ilmu Psikologi,” ungkapnya penuh komitmen.
Kisah Salwa adalah cerminan dari 14 penerima beasiswa lainnya. Mereka datang dari kantong-kantong wilayah di sekitar operasi migas seperti Muara Badak, Samboja, Marangkayu, hingga Murung Pudak. Kini, mereka tersebar menuntut ilmu di berbagai kampus ternama di Kalimantan, mulai dari Universitas Mulawarman hingga Universitas Lambung Mangkurat.
Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, melihat program ini lebih dari sekadar tanggung jawab perusahaan. Baginya, pendidikan adalah fondasi kemandirian.
“Melalui BSBK, kami ingin membuka akses pendidikan tinggi bagi generasi muda lokal. Kami melihat begitu banyak kisah perjuangan, semangat belajar, dan mimpi besar dari para peserta selama proses seleksi,” ujar Dony.
Ia menegaskan, PHI bersama anak perusahaannya (PHM, PHSS, PHKT) dan Pertamina Foundation, ingin memastikan bahwa kehadiran industri hulu migas turut menyalakan lilin harapan bagi masa depan anak-anak di sekitarnya.
Para penerima beasiswa ini tidak hanya dituntut cerdas secara akademis, tetapi juga peka terhadap lingkungan. Mereka akan terjun dalam “Aksi Sobat Bumi”, menanam mangrove, mengolah sampah, hingga mengajar di sekolah-sekolah tentang gaya hidup ramah lingkungan.
Kini, Salwa dan rekan-rekannya telah memulai babak baru. Di pundak mereka, tertitip harapan keluarga dan masa depan Kalimantan yang lebih berdaya. Dari keterbatasan, mereka kini melangkah tegap menuju gerbang sarjana, membuktikan bahwa mimpi anak pesisir dan pedalaman tak boleh padam hanya karena biaya.













