Balikpapan, Kaltim, ruangenergi.com-Angin segar berhembus bagi sektor energi nasional. Pemerintah Indonesia bersiap mencetak sejarah baru dengan target ambisius: menyetop total impor Solar mulai pertengahan 2026. Optimisme ini muncul seiring beroperasinya megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut proyek ini sebagai titik balik krusial. Bukan sekadar menambah kapasitas, kilang ini digadang-gadang menjadi kunci bagi Indonesia untuk berdaulat penuh atas kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
“Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor,” tegas Bahlil , Senin (12/01/2026), di Balikpapan.
Bagaimana Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor? Bahlil memaparkan hitungan-hitungannya dengan gamblang.
Kebutuhan solar nasional saat ini mencapai 39,8 juta kiloliter (kl) per tahun. Namun, berkat program biodiesel B40 (campuran 40% bahan bakar nabati), negara sudah mendapat pasokan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) sebesar 15,9 juta kl. Artinya, sisa kebutuhan solar murni (B0) tinggal 23,9 juta kl.
Kabar baiknya, produksi nasional saat ini sudah tembus 26,5 juta kl per tahun.
“Dengan surplus produksi ini, pemerintah menargetkan penghentian impor solar untuk produk CN 48 maupun CN 51 mulai pertengahan 2026,” jelas Bahlil.
Tak hanya solar, Kilang Balikpapan juga membawa dampak signifikan bagi pasokan bensin (gasoline). Melalui optimalisasi RDMP, produksi bensin dengan oktan tinggi (di atas RON 90) akan melonjak hingga 5,8 juta kl per tahun.
Dampaknya langsung terasa:
-
Impor bensin RON 92 (Pertamax), RON 95, dan RON 98 bisa ditekan hingga 3,6 juta kl per tahun.
-
Penerapan E10 (campuran etanol) akan menghemat impor tambahan hingga 3,9 juta kl per tahun.
“Ke depan, melalui pengembangan kilang selanjutnya, kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90,” tambah Bahlil optimistis.
RDMP Balikpapan bukan sekadar kilang biasa. Fasilitas ini dilengkapi teknologi canggih seperti Crude Distillation Unit (CDU) yang mampu mendongkrak kapasitas pengolahan dari 260 ribu menjadi 360 ribu barel per hari.
Selain itu, terdapat unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mampu “menyulap” residu minyak menjadi produk bernilai tinggi.
“Kualitasnya sekarang sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini sejalan dengan visi menuju net zero emission,” ujar Bahlil.
Kekuatan kilang ini juga didukung infrastruktur raksasa: dua tangki penyimpanan di Lawe-lawe berkapasitas total 2 juta barel dan Terminal BBM Tanjung Batu yang siap melayani distribusi ke Indonesia bagian timur.
Bagi pemerintah, langkah ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan wujud tanggung jawab negara sesuai Pasal 33 UUD 1945. Bahlil menegaskan bahwa cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai negara demi menjamin ketersediaan energi bagi masyarakat.
Untuk mencapai kemandirian energi tersebut, pemerintah telah menyiapkan tiga jurus andalan:
-
Peningkatan Kapasitas Kilang: Seperti yang terwujud dalam RDMP Balikpapan.
-
Diversifikasi Energi: Menggenjot program biodiesel (B40) untuk mengurangi ketergantungan fosil.
-
Keseimbangan Pasokan: Menjaga neraca energi nasional agar stok BBM selalu aman.












